Kenapa Remaja Sulit Terbuka? Peran Orang Tua dalam Mendeteksi Depresi

  • 13 Apr 2026 16:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, satu persoalan masih kerap terjadi di lingkungan keluarga adalah para remaja yang sulit terbuka kepada orang tua. Padahal, keterbukaan menjadi kunci penting dalam mendeteksi dini depresi yang kini banyak dialami anak usia remaja.

Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 9 April 2026, para narasumber menyoroti bahwa tidak sedikit remaja memilih memendam perasaan dibandingkan menceritakan apa yang mereka alami. Kondisi ini bukan tanpa alasan, melainkan terbentuk dari pola komunikasi yang sudah terjadi sejak kecil.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS, menjelaskan bahwa banyak anak tumbuh dengan pengalaman dimarahi ketika melakukan kesalahan. Hal tersebut secara tidak langsung membentuk respons awal berupa rasa takut dan memilih diam.

“Kalau dari kecil setiap salah langsung dimarahi, anak akan belajar bahwa lebih aman untuk tidak bercerita. Akhirnya saat punya masalah, mereka memilih memendam,” ujarnya.

Kebiasaan tersebut berlanjut hingga remaja, di mana mereka justru kesulitan mengekspresikan emosi secara terbuka. Bahkan, ketika mengalami tekanan atau gejala depresi, tidak sedikit yang enggan berbagi karena khawatir tidak dipahami atau diabaikan.

Padahal, menurut para ahli, depresi pada remaja tidak selalu tampak dalam bentuk kesedihan yang jelas. Perubahan perilaku seperti mudah marah, menarik diri, kehilangan minat, hingga perubahan pola tidur sering kali menjadi tanda awal yang justru luput dari perhatian.

Residen psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dr. Saiful Bahri, menambahkan bahwa remaja memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan emosi dibandingkan orang dewasa. Mereka cenderung menunjukkan iritabilitas atau emosi yang meledak-ledak, bukan sekadar kesedihan.

“Remaja jarang mengatakan ‘saya sedih’. Yang muncul justru marah atau sensitif. Ini yang sering disalahartikan oleh orang tua,” jelasnya.

Di sisi lain, kesibukan orang tua juga menjadi tantangan tersendiri. Waktu interaksi yang terbatas membuat perubahan kecil pada anak sering terlewat. Tidak jarang, orang tua menyerahkan sepenuhnya pengawasan kepada sekolah, padahal peran keluarga tetap menjadi yang utama.

Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS menekankan bahwa mendeteksi depresi tidak bisa dilakukan secara pasif. Orang tua perlu aktif bertanya, mengamati, dan membangun komunikasi yang sehat dengan anak. Tanpa itu, remaja cenderung mencari pelarian sendiri, termasuk melalui media sosial atau memendam perasaan yang berpotensi memperburuk kondisi.

“Kalau kita tidak bertanya, mereka tidak akan bercerita. Maka orang tua harus hadir, bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional,” tambahnya.

Membangun keterbukaan memang bukan hal instan. Dibutuhkan kepercayaan, empati, dan ruang aman agar anak merasa didengarkan tanpa dihakimi. Ketika orang tua mampu menciptakan hal tersebut, peluang untuk mendeteksi masalah sejak dini menjadi lebih besar.

Di tengah dinamika kehidupan modern, peran orang tua tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memastikan kesehatan mental anak tetap terjaga. Sebab, di balik sikap diam seorang remaja, bisa jadi tersimpan masalah yang membutuhkan perhatian serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....