Tanda-Tanda Depresi pada Remaja yang Sering Diabaikan Orang Tua
- 13 Apr 2026 15:52 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Masa remaja sering dianggap sebagai fase penuh gejolak emosi yang wajar. Perubahan suasana hati, sikap yang mudah tersinggung, hingga keinginan untuk lebih banyak menyendiri kerap dipandang sebagai bagian dari proses pendewasaan. Namun di balik itu, ada kondisi yang sering luput dari perhatian, yakni depresi pada remaja.
Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 9 April 2026, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS, mengungkapkan bahwa hampir 35 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Bahkan, sebagian di antaranya memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri hingga muncul keinginan bunuh diri.
“Remaja berada pada fase yang krusial. Mereka sedang mencari jati diri, di satu sisi merasa sudah dewasa, namun di sisi lain masih membutuhkan bimbingan. Konflik inilah yang membuat mereka rentan mengalami depresi,” jelasnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah membedakan antara emosi remaja yang normal dengan gejala depresi. Secara umum, perasaan sedih pada remaja memang bisa muncul sesaat, misalnya karena masalah di sekolah atau pertemanan. Namun, kondisi tersebut biasanya tidak berlangsung lama dan dapat membaik setelah mereka kembali beraktivitas.
Berbeda dengan depresi, perubahan emosi terjadi lebih dalam dan berlangsung lebih lama, setidaknya selama dua minggu. Remaja yang mengalami depresi cenderung kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai, merasa putus asa, kelelahan, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
Yang sering kali terabaikan, gejala depresi pada remaja tidak selalu ditunjukkan dengan kesedihan. Menurut dr. Saiful Bahri, residen psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, remaja justru lebih sering mengekspresikannya melalui perubahan perilaku.
“Remaja jarang mengatakan ‘saya sedih’. Yang muncul justru mudah marah, sensitif, atau menunjukkan sikap menolak. Ini yang sering disalahartikan oleh orang tua,” ujarnya.
Selain itu, perubahan kecil seperti pola tidur yang terganggu, nafsu makan yang menurun, hingga keengganan berinteraksi juga menjadi sinyal yang perlu diwaspadai. Bahkan, perubahan terhadap hal-hal sederhana—seperti tidak lagi menyukai makanan favorit atau enggan melakukan hobi—dapat menjadi indikator awal.
Sayangnya, kesibukan orang tua kerap membuat tanda-tanda ini terlewat. Tidak sedikit yang menganggap kondisi tersebut akan membaik dengan sendirinya seiring waktu. Padahal, tanpa penanganan yang tepat, depresi dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
“Kalau kita tidak bertanya, mereka tidak akan bercerita. Anak-anak cenderung memendam, apalagi jika sejak kecil terbiasa dimarahi saat melakukan kesalahan,” tambahnya.
Karena itu, peran orang tua menjadi kunci dalam deteksi dini. Mengamati perubahan perilaku, membangun komunikasi yang terbuka, serta menyediakan ruang aman bagi anak untuk bercerita menjadi langkah penting. Ketika gejala sudah berlangsung lama atau semakin berat, konsultasi dengan tenaga profesional sangat dianjurkan.
Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi, remaja juga dihadapkan pada fenomena self-diagnose melalui internet. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap kondisi yang sebenarnya mereka alami.
Depresi pada remaja bukan sekadar “fase biasa” yang bisa diabaikan. Dibutuhkan kepekaan, perhatian, dan keterlibatan aktif dari orang tua agar tanda-tanda yang muncul tidak terlewat begitu saja. Dengan deteksi dini dan dukungan yang tepat, remaja dapat melalui fase ini dengan lebih sehat, baik secara emosional maupun mental.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....