Otak Lebih Tenang Menghadapi Masalah setelah Usia 30-an, Kok Bisa?

  • 27 Mar 2026 10:30 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Selama ini, masyarakat dan ilmu pengetahuan umum menganggap bahwa proses pendewasaan otak manusia berakhir di usia 25 tahun. Namun, hal ini diperbaharui oleh sebuah studi revolusioner dari Universitas Cambridge berjudul Topological turning points across the human lifespan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications di tahun 2025.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 4.000 otak yang terpindai dan terungkap bahwa fase "remaja" secara neurologis ternyata berlangsung jauh lebih lama, bahkan hingga seseorang menginjak usia 32 tahun. Tahukah anda? temuan ini didasarkan pada analisis topologi otak, yaitu cara miliaran sel saraf terhubung dan berkomunikasi satu sama lain.

Para peneliti menemukan bahwa terdapat lima fase perkembangan otak anak-anak yang dimulai dari awal kelahiran hingga usia sembilan tahun, fase remaja dari usia sembilan hingga 32 tahun, fase dewasa dari usia 32 hingga 66 tahun, fase awal penuaan (early ageing) dari usia 66 hingga 83 tahun, lalu fase penuaan akhir (late ageing) pada usia 83 tahun keatas.

Menyadur dari laman BBC, secara teknis, masa remaja dimulai sekitar usia sembilan tahun, bertepatan dengan masa prapubertas. Pada penelitian terbaru menunjukan bahwa perkembangan yang masih tetap terjadi secara stabil berhenti di awal kepala dua. Pada usia tersebut, otak terus melakukan proses penyambungan antar satu jaringan dengan yang lainnya.

Pergerakan ini disebut dengan rewiring, mengikuti pola yang sama sejak bangku sekolah hingga melewati usia 30 tahun. Hal ini menggeser pemahaman kita bahwa kematangan emosional dan logika sudah mencapai puncaknya di usia 21 atau 25 tahun.

Dr. Alexa Mousley, pemimpin penelitian tersebut, menjelaskan bahwa titik balik di usia 32 tahun merupakan momen di mana otak mencapai puncak efisiensi tertingginya. Sebelum sampai pada usia 32 tahun, otak masih sangat plastis dan adaptif, namun juga rentan terhadap gangguan kesehatan mental karena proses penataan ulang yang masif.

Setelah melewati usia 32, otak memasuki fase "dewasa" yang lebih stabil, di mana perubahan terjadi lebih lambat. Fakta menarik lainnya adalah pada usia tersebut, kemampuan otak untuk menghubungkan berbagai informasi dari wilayah yang berbeda pada otak, mencapai titik optimal. Sehingga, pada usia 30-an banyak orang merasa lebih tenang dalam menghadapi permasalahan yang kompleks.

Inilah mengapa banyak orang merasa baru benar-benar memiliki kendali penuh terhadap berbagai keputusan hidup dan stabilitas emosional, saat memasuki dekade ketiga dalam hidupnya, bukan saat baru lulus kuliah.

Penelitian ini pula memberikan gambaran bahwa usia biologis ini ternyata selaras dengan pergeseran sosial di era modern. Usia awal 30-an kini sering menjadi masa di mana seseorang mulai memiliki tanggung jawab besar, seperti menjadi orang tua atau menempati posisi kepemimpinan profesional. Penemuan ini memberikan validasi ilmiah bahwa transisi menuju kedewasaan memang memerlukan waktu lebih lama agar perangkat biologis yang kita miliki sebagai manusia, siap menghadapi kehidupan dewasa yang sangat kompleks.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....