Melawan Stigma: Orang Tua Jangan Takut Membawa Anak ke Rumah Sakit

  • 02 Mar 2026 11:52 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Mendengar kata kanker pada anak sering kali menjadi momok menakutkan bagi banyak orang tua. Rasa takut, cemas, hingga penolakan terhadap diagnosis kerap muncul sebelum langkah penanganan medis dimulai. Padahal, menurut para tenaga kesehatan dan pemerhati perlindungan anak di Bali, ketakutan justru menjadi hambatan terbesar dalam proses penyembuhan.

Dalam acara Rahajeng Bali bersama KPAD Provinsi Bali, dokter spesialis anak konsultan onkologi dari RSU Prima Medika Denpasar, dr. Ketut Aryawati, Sp.A(K), menjelaskan bahwa reaksi pertama orang tua ketika menerima diagnosis kanker hampir selalu sama, yaitu takut dan tidak percaya. Banyak yang merasa mustahil anak yang masih kecil dapat terkena penyakit serius tersebut.

Namun secara medis, diagnosis kanker pada anak dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan ilmiah yang jelas, mulai dari pengamatan gejala, pemeriksaan fisik, hingga tes laboratorium. Ia menegaskan bahwa kanker anak bukanlah vonis akhir, sebab peluang kesembuhan justru cukup tinggi apabila terdeteksi sejak dini.

Sayangnya, stigma terhadap rumah sakit masih menjadi kendala, karena sebagian orang tua menunda pemeriksaan disebabkan khawatir biaya pengobatan, takut mengetahui kondisi sebenarnya, atau memilih mencari pengobatan alternatif yang belum terbukti secara medis. Kondisi ini justru membuat anak datang dalam keadaan yang sudah terlambat ditangani.

Komisioner KPAD Provinsi Bali, Lilik Ismunartono Santoso, S.Sn., S.Pd., menilai pola pikir tersebut perlu diubah melalui edukasi berkelanjutan. Menurutnya, kesehatan anak merupakan investasi masa depan yang tidak boleh dikalahkan oleh rasa takut atau overthinking orang dewasa. Membawa anak ke fasilitas kesehatan bukan berarti menyerah pada penyakit, melainkan langkah awal melindungi hak hidup dan tumbuh kembang anak.

Lilik Ismunartono menambahkan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama karena sebagian besar kanker anak tidak dapat dicegah, tetapi memiliki peluang sembuh tinggi jika ditangani lebih awal. Oleh karena itu, kesadaran orang tua untuk segera memeriksakan anak saat muncul gejala mencurigakan sangat penting.

Selain penanganan medis, dukungan psikologis juga menjadi bagian penting dalam proses pengobatan. Tenaga medis kini tidak hanya fokus pada terapi fisik, tetapi juga membangun komunikasi terbuka dengan anak agar mereka memahami kondisi yang dialami tanpa rasa takut berlebihan. Pendekatan ini membantu anak tetap merasa aman dan percaya selama menjalani perawatan.

Melalui sosialisasi seperti ini, KPAD provinsi Bali bersama tenaga kesehatan berharap masyarakat semakin memahami bahwa rumah sakit bukan tempat yang harus ditakuti. Sebaliknya, fasilitas kesehatan adalah ruang perlindungan yang memberi kesempatan bagi anak untuk sembuh dan kembali menjalani kehidupan secara normal.

Pesan utama yang ingin disampaikan sederhana namun penting: jangan menunggu hingga kondisi memburuk. Mengalahkan stigma dan keberanian mengambil langkah sejak awal dapat menjadi penyelamat masa depan anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....