Seni Berbicara dengan Orang yang Tidak Mau Mendengar Anda
- 18 Jul 2026 15:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Menghadapi orang yang bebal dengan argumen logis sering kali ibarat mengetuk pintu rumah kosong. Tidak akan pernah ada jawaban.
Pada buku The Psychology of Emotion karya David J.Lieberman menyatakan kesuksesan tidak dapat mencampuradukkan kecerdasan dengan kesehatan emosional. Dalam situasi apa pun, orang cerdas bisa mengambil keputusan yang salah.
Sementara rekannya yang kurang cerdas mungkin bisa mengambil pilihan yang lebih bijaksana dan dipikirkan lebih matang. Harga diri manusia menentukan arah perilaku anda bukan kecerdasan.
Orang cerdas punya potensi untuk keputusan yang lebih baik, tapi motivasi mengambil dan kemampuan untuk melakukan itu ditentukan oleh sudut pandang atau kesehatan emosionalnya. The Psychology of Emotion menjelaskan bahwa kondisi marah melenyapkan kecerdasan yang berfungsi untuk memproses realitas.
Sebaliknya, kecerdasan dibentuk dari pikiran yang jernih dan mampu mengendalikan emosional. Saat terjebak dalam diskusi dengan berbagai informasi, data dan fakta yang akurat, tapi semuanya gugur di hadapan lawan bicara.
Diskusi yang bisa berjalan obyektif, ternyata ditanggapi dengan argumen yang tidak rasional. Di dalam ranah psikologis, tipe manusia egosentris yang memiliki ilusi intelektual.
Orang-orang yang cenderung egosentris secara rutin mengabaikan penalaran rasional, namun anehnya, di saat bersamaan tetap menganggap diri mereka sebagai sosok yang intelek. Ketika ada fakta-fakta objektif yang dengan jelas mematahkan argumen mereka, mereka akan menutup mata dan tetap berlindung di balik tameng intuisinya.
Buku Psychology of Emotions menggambarkan sering kali anda memaksakan logika anda kepada orang yang egosentris dan itu hal alamiah. Kita sering melakukan kesalahan dengan mencoba mencari dasar logika dari keputusan orang yang emosional/egosentris.
Padahal, keputusan mereka sejak awal tidak dibuat menggunakan logika, melainkan ego. Jadi, dicari dengan cara apa pun, logika itu tidak akan pernah ada.
Cara ini tentu saja berakhir dengan kesia-siaan dan melelahkan. Masalah utama bukan terletak pada bagaimana cara anda berkomunikasi, melainkan pada ketidakcocokan instrumen komunikasi sejak awal.
Fakta sejelas kristal sekalipun tidak akan pernah mengubah keputusan orang yang sejak awal telah menutup rapat pintu logikanya. Dampak sosiopsikologis yang menarik justru terjadi pada diri kita sendiri ketika menghadapi situasi ini.
Saat kita mulai merasa dongkol, frustrasi, dan kehabisan energi karena orang tersebut tidak kunjung paham, secara tidak sadar kita sesungguhnya sedang bertindak jauh lebih tidak rasional daripada dirinya. Orang egosentris tersebut barangkali memang tidak mampu keluar dari jaring emosionalnya sendiri.
Namun bagi kita yang merasa 'lebih tahu' dan memiliki kesadaran penuh, namun tetap memilih bertahan dalam perdebatan kusir tersebut, kita secara sukarela menjerumuskan diri ke dalam lingkaran kesia-siaan. Keinginan kuat untuk membuktikan bahwa 'dia salah dan kita benar' pada akhirnya menjadi bumerang yang merusak kedamaian pikiran anda.
Sehingga, melepaskan keyakinan bahwa kita bisa mengubah cara pandang semua orang adalah bentuk tertinggi dari kedewasaan emosional. Menyadari keterbatasan bahwa realitas tidak bisa ditunjukkan kepada orang yang menolak untuk melihatnya bukanlah sebuah kekalahan atau tanda kelemahan.
Sebaliknya, itu adalah sebuah pilihan yang terbaik untuk menjaga kesehatan mental dan waras kita sendiri. Terkadang, membiarkan orang lain tetap berada dalam ruang keyakinan versinya, meskipun menurut anda keliru, adalah cara paling bijaksana untuk mengakhiri perselisihan yang tidak berujung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....