Mengapa Diversifikasi Pangan Mendesak di tengah Gejolak Dunia?
- 16 Apr 2026 14:42 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Konflik antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya mengancam sektor energi (minyak), tetapi juga mengganggu rantai pasok global yang mengharuskan Indonesia segera melakukan diversifikasi ekonomi dan pangan.
- Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun masyarakat dan kebijakan nasional masih terjebak pada ketergantungan beras.
- Langkah nyata yang ditawarkan adalah meningkatkan konsumsi pangan lokal, mendiversifikasi variasi menu di meja makan, serta mengoptimalkan lahan pekarangan rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan mandiri di tingkat keluarga.
RRI.CO.ID, Denpasar –Di tengah konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, hal tidak saja mengancam ketersediaan minyak global. Tantangan yang berpusat pada persaingan pengaruh di Timur Tengah ini juga mengancam jalur energi utama dan mengganggu rantai pasok.
Ketegangan ini membuat sejumlah negara, termasuk Indonesia perlu melakukan diversifikasi ekonomi, energi, termasuk pangan. Ketahanan pangan tidak hanya soal jumlah stok, tetapi juga soal kualitas dan keberlanjutan distribusi gizi ke masyarakat.
Dr. I Nengah Muliartha, S.Si, M.Si, Dosen Fakultas Pertanian, Sains, Teknologi Universitas Warmadewa menjelaskan, Indonesia merupakan raksasa sumber daya alam yang sayangnya masih terjebak pada bahan pangan beras. Bahan pangan ini sangat populer di tengah masyarakat dan menjadi tolak ukur konsumsi sehari-hari.
Muliartha memandang, ketergantungan terhadap beras ini menutup mata publik terhadap potensi jagung, sagu, hingga umbi-umbian yang sebenarnya jauh lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Menurutnya, kekayaan lahan Indonesia belum mampu berbicara banyak ketika teknologi pengolahan. Lainnya, pemanfaatan komoditas lokal juga masih dianaktirikan dalam kebijakan nasional.
Fenomena petani di berbagai daerah juga enggan melakukan diversifikasi tanaman karena pasar masih sangat terobsesi pada komoditas beras sebagai prioritas utama. Minimnya insentif bagi pangan alternatif, membuat variasi nutrisi di meja makan menjadi stagnan dan rentan terhadap fluktuasi harga global.
Secara fundamental angka produksi kita mungkin terlihat aman, namun secara sistemik masih menghadapi permasalahan besar yang mengancam kedaulatan pangan jangka panjang. Muliartha juga menyoroti gaya hidup modern dan kemudahan belanja daring turut memperparah keadaan melalui tumpukan sisa makanan yang berakhir menjadi limbah sia-sia.
Solusi yang ia tawarkan bagi masyarakat untuk menghadapi situasi global saat ini adalah lebih banyak mengkonsumsi pangan lokal dan ragam variasi bahan yang ada di sekitar. Optimalkan pula lahan pekarangan rumah untuk ketahanan bahan pangan sehari-hari di tingkat rumah tangga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....