Fakta Menarik Tentang Otot Tubuh Manusia
- 07 Mei 2026 11:30 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Otot menyumbang lebih dari sepertiga berat badan manusia dengan konsumen energi yang besar, menghabiskan sekitar 20% (seperlima) kalori harian.
- Terdiri dari beragam jenis serat, di dalam otot terdapat ribuan fibril, dan di tingkat paling dasar disebut Sarkomer.
- Setiap otot punya campuran serat yang berbeda sesuai fungsinya. Seperti Otot betis yang didominasi serat lambat (85%) untuk berjalan, sementara trisep didominasi serat cepat (70%) untuk dorongan tenaga.
RRI.CO.ID, Denpasar – Pernahkah Anda membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di balik kulit saat Anda melangkah, mengangkat beban, atau sekadar menggigil kedinginan? Otot kita adalah mesin biologis yang luar biasa.
Beratnya mencapai sedikit lebih dari sepertiga massa tubuh kita, namun ia adalah "konsumen" energi yang rakus, menghabiskan sekitar seperlima dari total kalori harian. Meski begitu, setiap kalori yang dibakar sebanding dengan fungsinya yaitu menjaga suhu tubuh, menopang kerangka, dan memberi kita kemampuan untuk bergerak.
Dalam bukunya Exercise: Why Something We Never Evolved to Do Is Healthy and Rewarding, Daniel E. Lieberman menjelaskan struktur dasar otot tidak banyak berubah selama lebih dari 600 juta tahun. Jika Anda meletakkan serat otot sapi, ayam, atau manusia di bawah mikroskop, Anda akan sulit membedakannya.
Evolusi telah menyempurnakan mekanisme ini sejak lama untuk satu tujuan utama yaitu menghasilkan kekuatan melalui kontraksi. Tahukah anda? otot bukanlah gumpalan padat yang sederhana.
Otot adalah kumpulan sel panjang dan tipis yang disebut serat (fiber). Di dalam setiap serat, terdapat ribuan untaian lebih kecil yang disebut fibril.
Fibril ini tersusun atas struktur bergaris yang dikenal sebagai sarkomer. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti "komponen daging".
Sarkomer terdiri dari dua protein utama, satu tipis dan satu tebal. Saat saraf mengirimkan sinyal listrik, protein-protein ini saling meluncur dan menarik satu sama lain, mirip seperti jari-jari tangan yang saling menjalin atau tim tarik tambang yang menarik tali.
Miliaran gerakan kecil ini, yang masing-masing memakan biaya satu molekul energi (ATP), berkumpul menjadi kekuatan besar yang mampu menggerakkan tubuh kita. Meski mekanisme kerjanya sama, tidak semua serat otot diciptakan serupa.
Di dalam tubuh kita, terdapat "tim" yang bekerja sesuai spesialisasi masing-masing:
Otot Serat Merah dikenal sebagai serat kedutan-lambat (slow-twitch). Serat ini tidak meledak-ledak, namun sangat efisien menggunakan oksigen (aerobik) dan tidak mudah lelah. Inilah yang kita gunakan untuk aktivitas berdurasi lama seperti berjalan atau berlari maraton.
Otot Serat Putih dikenal dengan serat kedutan-cepat (fast-twitch). Mereka membakar gula untuk menghasilkan kekuatan yang sangat besar dalam waktu singkat, namun cepat sekali lelah. Serat inilah yang memungkinkan manusia melakukan lari cepat (sprint) seratus meter.
Otot Serat Merah Muda adalah perpaduan keduanya. Otot ini cukup kuat secara aerobik dan memiliki tingkat kelelahan yang menengah, cocok untuk aktivitas intensitas sedang.
Komposisi serat ini sangat bervariasi di setiap bagian tubuh, tergantung juga dengan fungsinya. Misalnya pada ayam, bagian paha memiliki lebih banyak serat merah karena digunakan untuk berdiri dan berjalan sepanjang hari.
Berbeda dengan bagian dada didominasi serat putih untuk kekuatan ledak saat mengepakkan sayap. Kemiripan ini juga terjadi pada manusia.
Otot trisep kita biasanya mengandung sekitar 70 persen serat kedutan-cepat karena sering digunakan untuk menghasilkan kekuatan mendadak. Sebaliknya, otot soleus, otot bagian dalam betis yang bertugas menopang tubuh saat berjalan, memiliki sekitar 85 persen serat kedutan-lambat.
Menariknya, studi biopsi otot sejak tahun 1976 menunjukkan bahwa non-atlet biasanya memiliki komposisi serat yang seimbang dengan perbandingan 50:50. Namun, atlet elit seperti Usain Bolt didominasi oleh serat kedutan-cepat hingga 73 persen, yang juga cenderung memiliki ukuran otot lebih besar.
Sebaliknya, pelari jarak jauh legendaris seperti Frank Shorter memiliki sekitar 70 persen serat kedutan-lambat. Baik atlet atau bukan, memahami bagaimana miliaran proyeksi protein kecil dalam serat otot bekerja setiap detiknya membuat anda semakin memahami proses aktifitas fisik yang dilakukan setiap harinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....