Peneliti : Teori Spekulatif Dead Intenet Theory Nampaknya Mendekati Kenyataan
- 20 Jun 2026 15:54 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Studi terbaru dari peneliti Imperial College London, Stanford University, dan Internet Archive menunjukkan bahwa sebagian dari kekhawatiran tersebut mungkin tidak lagi hanya asumsi. Selama bertahun-tahun, muncul dugaan atau teori spekulatif yang disebut Dead Internet Theory di kalangan pengguna internet.
Spekulasi ini pertama kali muncul pada 2021 di Agora Road's Macintosh Café yang disampaikan oleh pengguna dengan username IlluminatiPirate. Teori ini menyatakan bahwa internet modern perlahan dipenuhi oleh bot dan konten yang dibuat mesin, sementara aktivitas manusia asli semakin tenggelam.
Berdasarkan penelitian oleh peneliti Imperial College London, Stanford University yang memanfaatkan data arsip Wayback Machine milik Internet Archive, ditemukan bahwa hingga Mei 2025, sekitar 35,3 persen situs web baru yang diterbitkan di internet dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Yang lebih mengejutkan, sekitar 17,6 persen di antaranya dibuat sepenuhnya oleh AI tanpa campur tangan manusia.
Temuan ini menjadi salah satu pengukuran paling nyata sejauh ini mengenai besarnya pengaruh AI terhadap ekosistem internet global.
Dead Internet Theory sendiri berangkat dari gagasan bahwa sebagian besar konten yang kita lihat secara online tidak lagi dibuat oleh manusia, melainkan oleh sistem otomatis.
Dalam versi ekstremnya, teori tersebut bahkan mengklaim bahwa internet sengaja dipenuhi konten buatan mesin untuk memengaruhi opini publik. Meski klaim tersebut belum terbukti, data terbaru menunjukkan bahwa peran AI dan bot memang semakin dominan dalam aktivitas internet sehari-hari. Fenomena ini sejalan dengan berbagai laporan lain.
Pada September 2025, perusahaan keamanan dan jaringan Cloudflare melaporkan bahwa hampir sepertiga lalu lintas internet dunia berasal dari bot. Sementara itu, perusahaan keamanan siber Imperva mencatat bahwa aktivitas otomatis di internet telah melampaui aktivitas manusia untuk pertama kalinya pada 2024. Artinya, sebagian besar interaksi yang terjadi di dunia maya kini tidak lagi melibatkan manusia secara langsung.
Dampak perubahan ini sudah mulai terlihat. AI memungkinkan pembuatan situs web dalam hitungan menit dengan biaya yang sangat rendah. Akibatnya, muncul ribuan situs yang berisi artikel otomatis, halaman SEO yang dibuat hanya untuk menarik trafik mesin pencari, hingga situs palsu yang digunakan untuk penipuan.
Di sisi lain, banyak perusahaan media dan bisnis juga memanfaatkan AI secara sah untuk mempercepat produksi konten, menerjemahkan artikel, atau membantu riset. Meski demikian, para peneliti menemukan bahwa tidak semua kekhawatiran tentang konten AI terbukti benar.
Dalam banyak kasus, artikel yang dibuat AI masih menyertakan referensi, memiliki struktur yang baik, dan tidak selalu dipenuhi kesalahan fakta. Namun, ada dua masalah yang cukup konsisten ditemukan, yaitu berkurangnya keberagaman ide dan munculnya gaya penulisan yang terasa seragam. Karena model AI dilatih menggunakan sumber data yang mirip, banyak konten akhirnya memiliki sudut pandang yang hampir sama.
Para ahli juga mengingatkan bahwa dominasi AI berpotensi menciptakan "ruang gema" digital, yaitu kondisi ketika informasi yang beredar semakin homogen dan berulang. Jika tidak diimbangi dengan konten asli dari manusia, internet bisa kehilangan sebagian karakter utamanya sebagai ruang diskusi yang beragam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....