65 Miliar Serangan Siber Terjadi Sepanjang 2025 di Asia Pasifik

  • 15 Apr 2026 13:52 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Serangan siber terhadap aplikasi dan API di Asia-Pasifik melonjak 23% pada 2025 dengan 65 miliar insiden, didorong oleh peningkatan 104% pada serangan DDoS Layer 7 dalam dua tahun.
  • Adopsi strategi "AI-first" yang cepat menciptakan kesenjangan tata kelola keamanan, diperparah dengan 61% serangan API yang memanfaatkan manipulasi bot berbasis AI.
  • Laporan Akamai menekankan perlunya visibilitas dan pemantauan real-time untuk melindungi sektor-sektor utama dari ancaman ini.

RRI.CO.ID, Singapura – Lonjakan serangan siber terhadap aplikasi dan Application Programming Interface (API) di kawasan Asia-Pasifik menunjukkan tren yang mengkhawatirkan sepanjang 2025. Laporan terbaru dari Akamai Technologies mencatat hampir 65 miliar insiden, meningkat 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Temuan ini tertuang dalam laporan State of the Internet (SOTI) 2026 yang menyoroti dampak percepatan adopsi kecerdasan buatan dalam dunia bisnis. Strategi AI-first yang diterapkan banyak perusahaan dinilai belum diimbangi dengan tata kelola keamanan yang memadai, khususnya pada infrastruktur API.

Secara global, sebanyak 87 persen organisasi dilaporkan mengalami insiden keamanan terkait API dalam kurun waktu 12 bulan terakhir di 2025. Bahkan, pertumbuhan serangan harian pada sistem penghubung digital ini telah mencapai angka tiga digit, menandakan eskalasi ancaman yang semakin kompleks.

Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan wilayah APJ di Akamai, Reuben Koh, menyebut bahwa percepatan transformasi berbasis AI memperlebar kesenjangan tata kelola keamanan. Kondisi ini memaksa organisasi untuk meninjau ulang lanskap risiko mereka secara menyeluruh di tengah tekanan inovasi yang tinggi.

Selain itu, serangan DDoS Layer 7 yang menargetkan lapisan aplikasi meningkat signifikan hingga 104 persen dalam dua tahun terakhir. Sebanyak 61 persen serangan API di Asia-Pasifik bahkan melibatkan manipulasi alur kerja menggunakan bot berbasis AI yang mampu meniru perilaku pengguna asli.

Sektor ritel, jasa keuangan, telekomunikasi, dan teknologi menjadi sasaran utama karena tingginya ketergantungan pada transaksi digital berbasis API. Negara dengan volume API besar seperti Singapura dan Jepang menghadapi risiko lebih tinggi, sementara negara berkembang seperti Thailand dan Vietnam masih terkendala keterbatasan sumber daya keamanan.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Di sisi lain, penggunaan teknologi low-code berbasis AI turut mempercepat pengembangan aplikasi, namun sering kali mengorbankan aspek keamanan konfigurasi. Akamai merekomendasikan peningkatan visibilitas API serta penerapan pemantauan real-time sejak tahap pengembangan hingga operasional sistem untuk menekan risiko serangan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....