Mengenal Serangan DDoS, Ancaman Siber yang Bisa Lumpuhkan Layanan Digital
- 28 Mei 2026 12:45 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Serangan siber jenis distributed denial-of-service atau DDoS semakin sering terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Serangan ini dianggap berbahaya karena mampu melumpuhkan website, aplikasi, hingga sistem digital perusahaan dalam waktu singkat.
Dilansir dari Wikipedia, DDoS bekerja dengan cara membanjiri server menggunakan trafik internet dalam jumlah sangat besar secara bersamaan. Akibatnya, server menjadi kewalahan dan tidak mampu melayani pengguna normal yang ingin mengakses layanan tersebut.
Dalam beberapa kasus, serangan DDoS bahkan bisa membuat layanan perbankan, marketplace, game online, hingga situs pemerintahan tidak dapat diakses selama berjam-jam. Kondisi ini tentu merugikan karena aktivitas bisnis dan pelayanan publik bisa ikut terganggu.
Chief Technology Officer IDCloudHost, Faisal Reza, mengatakan pola serangan DDoS saat ini semakin kompleks dibanding sebelumnya. “Serangan DDoS semakin kompleks dan masif,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat 22 Mei 2026.
Serangan DDoS umumnya dilakukan menggunakan jaringan perangkat yang telah diretas, biasa disebut botnet. Perangkat tersebut bisa berupa komputer, server, hingga kamera CCTV atau perangkat internet of things (IoT) yang keamanannya lemah.
Karena melibatkan ribuan bahkan jutaan perangkat sekaligus, serangan DDoS sulit diblokir hanya dengan cara biasa. Peretas juga terus mengembangkan metode baru agar serangan mereka lebih sulit dideteksi sistem keamanan.
Bahaya terbesar dari serangan DDoS bukan hanya soal website yang down. Saat sistem lumpuh, perusahaan bisa kehilangan transaksi, pelanggan, hingga kepercayaan publik karena layanan tidak dapat digunakan.
Di sektor perbankan, misalnya, serangan DDoS dapat mengganggu transaksi digital dan layanan mobile banking. Sementara di sektor pemerintahan, gangguan sistem bisa menghambat pelayanan administrasi masyarakat secara online.
Selain itu, serangan DDoS sering dipakai sebagai pengalih perhatian sebelum peretas melakukan aksi lain seperti pencurian data atau penyusupan sistem. Ketika tim IT sibuk menangani lonjakan trafik, celah keamanan lain bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Karena itu, banyak perusahaan kini mulai memperkuat sistem perlindungan digital mereka menggunakan teknologi anti-DDoS. Sistem ini bekerja dengan menyaring trafik mencurigakan sebelum mencapai server utama sehingga layanan tetap berjalan normal.
Pakar keamanan siber menilai ancaman DDoS kemungkinan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Semakin banyak layanan yang terhubung ke internet membuat potensi serangan juga semakin besar jika sistem keamanan tidak diperkuat sejak awal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....