Apa Itu Model Keamanan Siber Zero Trust?
- 13 Feb 2026 09:14 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar - Setelah insiden serangan siber pada pusat data nasional, banyak pakar keamanan mendorong penerapan model Zero Trust untuk memperkuat sistem ke depan. Model ini dianggap lebih relevan menghadapi ancaman modern yang semakin kompleks dan tidak selalu datang dari luar jaringan.
Zero Trust adalah pendekatan keamanan siber dengan prinsip “jangan pernah percaya, selalu verifikasi”. Artinya, tidak ada pengguna atau perangkat yang otomatis dianggap aman meskipun sudah berada di dalam jaringan organisasi.
Secara sederhana, Zero Trust mengubah cara berpikir dari “siapa pun yang sudah masuk berarti aman” menjadi “setiap akses harus dibuktikan aman”. Pendekatan ini membuat perlindungan tidak lagi bergantung pada tembok luar jaringan, melainkan langsung pada data dan aset yang paling berharga.
Berbeda dengan sistem lama yang fokus menjaga “gerbang depan” jaringan, Zero Trust justru memeriksa setiap akses secara detail. Model ini menganggap ancaman bisa datang dari mana saja, termasuk dari dalam sistem itu sendiri.
Menurut National Institute of Standards and Technology (NIST), Zero Trust adalah kerangka kerja keamanan yang mengharuskan verifikasi terus-menerus terhadap identitas dan akses sebelum mengizinkan koneksi ke sumber daya. Pendekatan ini menekankan perlindungan data, bukan sekadar perlindungan jaringan.
Salah satu prinsip utamanya adalah verifikasi berkelanjutan, bukan hanya saat login pertama kali. Setiap kali ingin mengakses data atau aplikasi, identitas, perangkat, lokasi, hingga konteks akses akan diperiksa kembali.
Prinsip berikutnya adalah hak akses minimal atau least privilege. Pengguna hanya diberikan akses yang benar-benar dibutuhkan untuk pekerjaannya sehingga ruang gerak peretas menjadi sangat terbatas jika terjadi pelanggaran.
Zero Trust juga menerapkan mikrosegmentasi, yaitu membagi jaringan menjadi bagian-bagian kecil yang terisolasi. Jika satu bagian terkena serangan, peretas tidak bisa dengan mudah berpindah ke bagian lain sistem.
Manfaat utama model ini adalah melindungi data sensitif dari ancaman internal maupun eksternal. Selain itu, pendekatan ini cocok untuk lingkungan kerja modern yang mengandalkan sistem hybrid dan akses jarak jauh.
Menurut Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), Zero Trust membantu organisasi mengurangi risiko kebocoran data dengan memastikan setiap permintaan akses diperiksa secara ketat. Model ini juga mendorong penggunaan autentikasi multi-faktor dan pengelolaan identitas yang lebih disiplin.
Beberapa komponen penting dalam Zero Trust meliputi autentikasi multi-faktor (MFA), manajemen identitas, serta kontrol akses berbasis kebijakan yang rinci. Kombinasi teknologi ini membuat sistem tidak mudah ditembus hanya dengan satu celah keamanan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....