Puluhan Aplikasi Palsu dengan Modus Pengintip WhatsApp Beredar di Google Play

  • 18 Mei 2026 14:45 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Dilansir dari situs ESET, peneliti keamanan siber dari ESET menemukan 28 aplikasi palsu di Google Play yang mengklaim bisa mengintip riwayat panggilan, SMS, hingga log panggilan WhatsApp milik orang lain. Secara total, aplikasi-aplikasi tersebut telah diunduh lebih dari 7,3 juta kali sebelum akhirnya dihapus dari platform.

Kelompok aplikasi ini diberi nama CallPhantom oleh ESET. Aplikasi tersebut diketahui meminta pengguna membayar untuk membuka fitur yang diklaim bisa mengakses data pribadi nomor telepon tertentu.

Namun setelah diteliti, data yang ditampilkan aplikasi ternyata hanyalah informasi palsu yang dibuat otomatis oleh sistem. Pengguna sebenarnya tidak mendapatkan akses nyata ke riwayat panggilan, SMS, maupun WhatsApp seperti yang dijanjikan.

Peneliti ESET, Lukas Stefanko, mengatakan pihaknya pertama kali menemukan modus ini pada November 2025 lewat unggahan di Reddit. Saat itu, sebuah aplikasi bernama “Call History of Any Number” ramai dibahas karena mengklaim bisa membuka riwayat panggilan siapa saja.

“Analisis kami menunjukkan bahwa data ‘riwayat panggilan’ yang diberikan aplikasi itu sepenuhnya dibuat-buat,” kata Lukas Stefanko dalam laporan yang dikutip Minggu, 17 Mei 2026. Ia menjelaskan aplikasi hanya menghasilkan nomor telepon acak yang dipasangkan dengan nama, waktu panggilan, dan durasi palsu yang sudah tertanam di dalam kode aplikasi.

Menurut ESET, aplikasi CallPhantom banyak menyasar pengguna Android di India dan kawasan Asia Pasifik. Beberapa aplikasi bahkan otomatis menampilkan kode negara India +91 dan mendukung sistem pembayaran UPI yang umum digunakan di India.

Secara tampilan, aplikasi-aplikasi ini terlihat sederhana dan tidak meminta izin akses sensitif kepada pengguna. Hal itu karena aplikasi memang tidak benar-benar mampu mengakses data panggilan, SMS, atau WhatsApp pengguna lain.

Dalam penyelidikannya, ESET menemukan beberapa metode pembayaran yang digunakan pengembang aplikasi tersebut. Sebagian menggunakan sistem langganan resmi Google Play, sementara lainnya memakai pembayaran pihak ketiga yang dinilai melanggar kebijakan Google.

Biaya layanan palsu yang ditawarkan juga cukup mahal, mulai dari paket mingguan hingga tahunan. Harga tertingginya bahkan mencapai 80 dollar AS atau sekitar Rp 1,3 juta.

Sebagai mitra App Defense Alliance, ESET telah melaporkan seluruh temuan tersebut kepada Google. Semua aplikasi yang teridentifikasi kini sudah dihapus dari Google Play dan langganan aktif yang dibeli lewat sistem resmi Google otomatis dibatalkan.

Namun, pengguna yang membayar di luar sistem Google Play diminta lebih waspada. “Google tidak dapat membatalkan langganan maupun memberikan pengembalian dana jika pembayaran dilakukan lewat pihak ketiga,” tulis ESET dalam laporannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....