Petugas Pajak Menghubungi Anda? Bisa Jadi Itu Social Engineering

  • 26 Feb 2026 07:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Apakah anda pernah mendengar seseorang yang dihubungi oleh oknum petugas pajak, kemudian mereka melakukan validasi data, dan tiba-tiba uang anda terkuras?. Atau pernahkah anda menerima lowongan pekerjaan di BUMN, namun mensyaratkan anda untuk mentransfer sejumlah uang?

Jika jawabannya iya, maka anda sudah mengetahui tindak kejahatan Social engineering atau rekayasa sosial yang umum di Indonesia. Meski terdengar klise, jenis tindak kejahatan siber ini masih kerap memakan korban, dan pelakunya sangat sulit untuk dilacak.

Rekayasa sosial atau social engineering adalah teknik manipulasi psikologis yang digunakan pelaku kejahatan untuk memperoleh akses, informasi, atau keuntungan dengan mengeksploitasi kelemahan manusia. Berbeda dengan peretasan teknis yang menargetkan sistem, metode ini menargetkan aspek emosional seperti kepercayaan, ketakutan, empati, dan rasa urgensi.

Dirangkum dari OWASP 10, dalam praktiknya, pelaku biasanya memulai dengan mengumpulkan informasi tentang target melalui media sosial, situs web perusahaan, atau sumber publik lainnya. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk membangun skenario yang tampak meyakinkan agar korban percaya dan menuruti permintaan tertentu.

Siklus serangan umumnya terdiri dari tahap pengumpulan informasi, pendekatan, eksploitasi, dan pemutusan hubungan. Setelah korban melakukan tindakan yang diinginkan, seperti memberikan kata sandi atau mentransfer uang, pelaku akan menghilang tanpa meninggalkan jejak yang jelas.

Salah satu bentuk paling umum adalah phishing, yaitu pengiriman email atau pesan palsu yang menyerupai institusi resmi untuk memancing korban mengklik tautan berbahaya. Variasinya termasuk smishing melalui SMS dan vishing melalui panggilan telepon yang memanfaatkan kepanikan atau rasa takut.

Selain phishing, terdapat pretexting yang melibatkan pembuatan cerita palsu untuk memperoleh data sensitif dengan alasan tertentu. Ada pula baiting yang menawarkan iming-iming hadiah atau perangkat gratis, serta scareware yang menampilkan peringatan keamanan palsu agar korban mengunduh perangkat lunak berbahaya.

Dalam konteks fisik, tailgating memungkinkan pelaku masuk ke area terbatas dengan membuntuti karyawan resmi. Teknik ini memanfaatkan norma kesopanan sosial, seperti kebiasaan membukakan pintu bagi orang lain tanpa memverifikasi identitasnya.

Bahaya social engineering sangat besar karena dapat menyebabkan pencurian identitas, kerugian finansial, dan kebocoran data perusahaan. Serangan ini sering kali sulit dideteksi karena korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.

Dampak jangka panjangnya dapat merusak reputasi organisasi dan menurunkan kepercayaan publik terhadap sistem keamanan digital. Secara psikologis, korban juga dapat mengalami stres dan rasa bersalah akibat tertipu.

Penelitian menunjukkan bahwa faktor manusia merupakan salah satu titik terlemah dalam keamanan informasi modern. Studi oleh Hadnagy dan Fincher (2015) menegaskan bahwa keberhasilan serangan sering kali bergantung pada kemampuan pelaku memahami perilaku dan respons emosional manusia.

Selain itu, laporan Verizon Data Breach Investigations Report secara konsisten menunjukkan bahwa persentase besar pelanggaran data melibatkan unsur rekayasa sosial. Temuan ini memperkuat pentingnya edukasi dan kesadaran keamanan sebagai bagian dari strategi perlindungan.

Rekomendasi Berita