Pelari Kalcer, Lari Menjadi Gaya Hidup dan Ruang Bersosialisasi

  • 25 Jul 2026 12:41 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Pagi hari di akhir pekan kini menghadirkan pemandangan yang semakin akrab di berbagai kota, dengan kelompok anak muda berlari bersama sebelum menikmati kopi atau sarapan. Fenomena tersebut kemudian dikenal di media sosial dengan sebutan "pelari kalcer", yakni mereka yang menjadikan aktivitas lari sebagai bagian dari gaya hidup sekaligus ajang berkumpul.

Istilah "pelari kalcer" memang lahir dari percakapan warganet dan bukan merupakan istilah resmi dalam dunia olahraga. Meski demikian, sebutan ini menggambarkan perubahan cara pandang terhadap lari yang kini tidak hanya dilakukan untuk menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi ruang membangun relasi dan komunitas.

Perkembangan komunitas lari atau running club turut mencerminkan tren tersebut. Laporan Strava Year in Sport Trend Report 2024 mencatat partisipasi dalam klub lari meningkat 59 persen secara global, sementara banyak peserta, terutama generasi muda, bergabung untuk berolahraga sekaligus memperluas pergaulan.

Dari sisi kesehatan, bergabung dengan komunitas lari juga memberikan manfaat yang tidak hanya dirasakan secara fisik. Salah satu penelitian yang dimuat dalam Jurnal Konseling Indonesia menunjukkan bahwa keikutsertaan dalam komunitas lari dapat membantu mengurangi stres, memberikan ketenangan pikiran, serta menghadirkan dukungan sosial antaranggota.

Di Indonesia, tren ini juga sering dikaitkan dengan fenomena Good FOMO, yaitu ketika seseorang terdorong mengikuti kebiasaan positif yang sedang berkembang di lingkungan sekitarnya. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social Science menemukan bahwa keterlibatan dalam komunitas lari dapat memotivasi anggotanya untuk lebih disiplin berolahraga dan menerapkan pola hidup yang lebih sehat.

Meski demikian, tren "pelari kalcer" juga menjadi pengingat bahwa olahraga tidak seharusnya berubah menjadi ajang membandingkan diri dengan orang lain. Outfit, sepatu lari, jam tangan pintar, maupun unggahan hasil lari di media sosial boleh saja menjadi bagian dari tren, tetapi manfaat kesehatan tetap menjadi tujuan utamanya.

Bagi banyak orang, lari kini bukan hanya soal mengejar catatan waktu atau jarak tempuh. Aktivitas ini juga menjadi kesempatan untuk bertemu teman baru, memperluas jaringan pertemanan, sekaligus menikmati suasana kota pada akhir pekan.

Fenomena "pelari kalcer" memperlihatkan bagaimana olahraga dapat berkembang mengikuti perubahan gaya hidup masyarakat. Ketika dilakukan secara konsisten, lari bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga menjadi sarana membangun kebersamaan dan komunitas yang lebih aktif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....