Esok Alkateri: ketika Harapan Belajar Menemukan Jalannya

  • 18 Agt 2026 09:09 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Ada masa ketika hidup terasa seperti sedang berada di ruangan yang terlalu gelap. Kita tahu ada pintu keluar, tetapi belum tentu tahu harus berjalan ke arah mana. Video musik Esok dari Alkateri terasa membawa suasana itu. Ia tidak hadir sebagai cerita yang menjelaskan semuanya secara gamblang, tetapi seperti perjalanan seseorang yang perlahan mencoba percaya bahwa tidak semua yang gelap akan tinggal selamanya.

Dari judulnya saja, Esok sudah membawa satu kata yang menarik. Esok adalah sesuatu yang belum terjadi. Kita tidak bisa memegangnya, memastikan bentuknya, bahkan tidak tahu apakah hari esok akan benar-benar berjalan seperti yang kita rencanakan. Namun, justru di sanalah harapan hidup. Lagu ini beberapa kali membawa gagasan tentang terang yang akan datang dan kegelisahan yang perlahan pergi, seolah mengajak pendengarnya untuk tetap bergerak meski hari ini belum memberi semua jawaban.

Konsep visualnya terasa seperti mempertemukan dua keadaan: manusia yang masih terjebak dalam ruang pikirannya sendiri dan keinginan untuk bergerak menuju sesuatu yang lebih terang. Setiap adegan dapat dibaca bukan sebagai perjalanan menuju jawaban yang langsung tersedia, melainkan proses menemukan kembali alasan untuk melangkah. Karena kadang yang membuat seseorang berhenti bukan karena tidak punya tujuan, tetapi karena terlalu lama memandangi jalan yang belum tentu.

Hal itu terasa selaras dengan lirik yang berbicara tentang kesempatan yang pernah datang, rasa yang sempat usai, serta mimpi yang masih berada dalam kendali. Esok seperti tidak menolak kenyataan bahwa ada hal-hal yang hilang. Ada kesempatan yang terlambat, harapan yang tidak sampai, dan keinginan yang harus berhenti di tengah jalan. Namun, lagu ini juga tidak menjadikan kehilangan sebagai titik akhir. Justru dari sesuatu yang pernah usai, muncul dorongan untuk percaya bahwa hidup masih memiliki halaman berikutnya.

Bagian yang paling kuat ada pada gagasan “terang menyapa” dan “gelap akan menepi”. Dua kalimat ini terdengar sederhana, tetapi visualnya membuat perubahan itu terasa sebagai perjalanan batin. Gelap tidak selalu harus dimaknai sebagai malam. Ia bisa berupa rasa ragu, takut gagal, kehilangan arah, atau ingatan tentang sesuatu yang belum selesai. Sementara terang bukan berarti semua masalah langsung hilang. Bisa saja terang hanyalah keberanian kecil untuk bangun lagi dan mencoba satu kali lagi.

Di situlah Esok terasa berbeda dari lagu motivasi yang sibuk menyuruh pendengarnya untuk segera bangkit. Lagu ini justru memberi ruang pada kegelisahan. Ada kelam, ada nestapa, ada angan yang hilang dalam genggaman. Semua itu tetap diakui sebagai bagian dari perjalanan. Namun, setelah mengakui bahwa kita sedang berada di titik yang tidak baik-baik saja, perlahan muncul satu kemungkinan: mungkin hari ini memang berat, tetapi hari ini bukan satu-satunya hari yang kita punya.

Menariknya, kata esok sendiri tidak pernah menjanjikan kehidupan yang sempurna. Ia hanya memberi kesempatan baru. Dan mungkin itu yang ingin disampaikan oleh perjalanan visual dan lirik Alkateri: harapan bukan tentang yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Harapan adalah keputusan untuk tetap percaya bahwa sesuatu masih bisa berubah, bahkan ketika kita belum melihat perubahannya.

Pada akhirnya, Esok terasa seperti percakapan dengan diri sendiri yang sedang kelelahan. Sebuah pengingat bahwa tidak semua jawaban harus ditemukan sekarang. Ada hal-hal yang memang baru bisa dipahami setelah kita melewati malamnya. Jadi, ketika hari ini terasa terlalu berat untuk dijalani, mungkin kita tidak perlu memaksa diri melihat terlalu jauh. Cukup percaya bahwa esok masih ada, dan siapa tahu, di sana kita akhirnya menemukan terang yang selama ini dicari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....