Film Seni Merayu Tuhan, saat Duka Mengajak Kita Berdebat

  • 07 Agt 2026 21:22 WIB
  •  Denpasar

RRI. CO.ID, Denpasar – Seni Merayu Tuhan adalah film drama religi islam yang lembut, reflektif, dan sarat makna karena bercerita tentang kehilangan, keimanan, dan cara manusia “berdebat” dengan Tuhan lewat doa dan pertanyaan-pertanyaan paling jujur. Film ini dijadwalkan tayang mulai 13 Agustus 2026 di bioskop Indonesia, dan sudah tercantum resmi dalam daftar film mendatang di Cinema XXI.

Film ini disutradarai Cesa David Luckmansyah dalam debut penyutradaraannya, dengan naskah yang ditulis Rino Sarjono, Gina S. Noer, dan Salman Aristo. Produksi film ini melibatkan Wahana Kreator, dengan durasi 115 menit. Dari tema kehilangan, spiritualitas, dan cinta beda agama, film ini lebih cocok untuk penonton remaja-dewasa.

Cerita berpusat pada Hikmah yang diperankan Ari Irham, seorang pemuda yang hidupnya goyah setelah kehilangan sang ibu yang diperankan Rieke Diah Pitaloka. Ketika ibunya terus muncul dalam mimpinya, Hikmah mulai sadar bahwa ia tidak bisa hanya pasrah; ia harus mencari cara sendiri untuk membuat ibunya tenang di alam sana, dan itu berarti ia harus “merayu” Tuhan dengan caranya sendiri.

Dalam perjalanan itu, Hikmah ditemani Hotib yang dimainkan Teuku Ryzki, sahabat masa kecilnya, dan Sophia yang diperankan Lutesha, pacarnya yang berbeda agama. Bersama mereka, Hikmah mencoba memahami makna ikhlas, keimanan, dan bagaimana tetap percaya pada Tuhan di tengah dunia yang tidak pasti, penuh keraguan, dan kadang terasa tidak adil.

Yang membuat film ini berbeda adalah cara ia tidak menggurui. “Merayu Tuhan” di sini bukan berarti memanipulasi, melainkan lebih seperti anak yang berani bertanya, mengeluh, dan tetap mencari Tuhan meski hatinya sedang luka. Dari sinilah film terasa sangat personal, karena hampir semua orang pernah berada di titik di mana doa terasa seperti monolog yang tidak dijawab.

Pemeran lain yang ikut mengisi film ini antara lain Arie Kriting, Habib Jafar, Sita Nursanti, Onadio Leonardo, dan Alfie Alfiandy. Kehadiran mereka membuat perjalanan Hikmah terasa lebih hidup, penuh warna, dan tidak hanya berputar di kesedihan, tetapi juga di tawa, persahabatan, dan percakapan-percakapan kecil yang justru sering jadi tempat kita menemukan jawaban.

Kalau dilihat dari premisnya, Seni Merayu Tuhan cocok untuk penonton yang suka drama religi dengan nuansa coming-of-age, kehilangan, dan pencarian makna hidup. Film ini bukan sekadar kisah tentang “cara mendekati Tuhan”, melainkan cerita tentang bagaimana manusia belajar dewasa lewat duka, dan bagaimana keimanan bisa tumbuh justru dari pertanyaan-pertanyaan yang paling sulit.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....