Mengenal Tari Tortor: Tarian Tradisional dan Media Komunikasi Budaya Batak

  • 30 Jun 2026 07:47 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Tari Tortor merupakan tarian tradisional suku Batak yang berasal dari Provinsi Sumatera Utara. Seni tari ini tersebar luas di berbagai daerah kabupaten, seperti Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba, Samosir, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, hingga Simalungun.

Dalam kehidupan masyarakat Batak, Tortor bukan sekadar hiburan melainkan bagian yang sangat penting dari setiap upacara adat (ulaon adat). Kehadiran tari ini menjadi sarana utama bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan, doa, serta perasaan batin mereka yang mencerminkan situasi nyata kehidupan sehari-hari. Dilansir dari id.wikipedia.org

Secara bahasa, nama "Tortor" diambil dari bunyi unik yang dihasilkan oleh hentakan kaki para penari di atas lantai papan rumah adat Batak yang bermaterial kayu. Tarian yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-13 ini memiliki kedudukan istimewa karena setiap gerakannya mengandung simbol penghormatan serta komunikasi antar-marga.

Pertunjukan Tortor dipimpin oleh para penari yang disebut panortor, di mana setiap gerakan tangan dan tubuh mereka melambangkan keharmonisan hubungan kekerabatan antara tiga kelompok utama dalam struktur sosial Batak, yaitu hulahula (keluarga pihak istri), dongan sabutuha (saudara semarga), dan boru (keluarga pihak perempuan).

Dalam pementasannya, tari Tortor tidak dapat dipisahkan dari alunan musik tradisional gondang sabangunan atau gordang. Sebelum tarian dimulai, tuan rumah atau hasuhutan akan melaksanakan prosesi khusus bernama mambuat tua ni gondang, yaitu sebuah ritual permohonan berkat doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar.

Prosesi ini diawali dengan penyampaian kata-kata permohonan yang santun kepada para pemain musik atau amang pardoal pargonci. Setiap kali satu permintaan selesai diucapkan, pemain musik akan memukul kendang dengan ritme tertentu sebagai tanda kesiapan sebelum rombongan keluarga berbaris rapi untuk mulai menari.

Pelaksanaan tari Tortor juga terikat pada aturan adat dan etika yang ketat demi menjaga kesucian maknanya. Setiap penari diwajibkan mengenakan kain tenun tradisional atau ulos selama menari. Selain itu, terdapat pantangan yang sangat dihormati saat manortor (menari Tortor), salah satunya adalah posisi tangan penari yang tidak boleh diangkat melebihi batas tinggi bahu.

Melanggar aturan ini secara adat dianggap sebagai bentuk tantangan atau kesombongan dalam hal kekuatan batin maupun bela diri. Melalui kepatuhan terhadap aturan tersebut, tari Tortor tetap terjaga kelestariannya sebagai media komunikasi yang luhur serta wujud penghormatan mendalam kepada para leluhur dan para tamu undangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....