Fenomena Konten Anak di Media Sosial: Kreativitas dan Risiko Digital

  • 28 Mei 2026 13:16 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Popularitas anak di media sosial kini kian marak melalui berbagai platform digital. Banyak anak bahkan telah menjadi "child influencer" dengan jutaan pengikut sejak usia dini.

UNICEF menyoroti risiko "sharenting" atau kebiasaan orang tua membagikan kehidupan anak secara berlebihan. Praktik ini berpotensi membahayakan privasi karena data pribadi anak dapat tersebar luas.

Masalah utama muncul saat anak belum cukup umur memberikan persetujuan terkait unggahan dirinya. Anak kehilangan kesempatan memahami hak privasi karena orang tua tidak melibatkan mereka dalam keputusan.

Jejak digital yang tercipta sejak kecil juga berisiko memengaruhi masa depan anak. Data tersebut dapat tersimpan bertahun-tahun dan rentan disalahgunakan oleh pihak asing tanpa izin.

Selain privasi, "child influencer" rentan mengalami eksploitasi ekonomi oleh orang dewasa. Anak sering didorong membuat konten demi meningkatkan "engagement” dan pemasukan keluarga.

Aktivitas digital ini dapat berubah menjadi tekanan kerja terselubung bagi sang anak. Tekanan popularitas juga memicu gangguan mental, stres, hingga kecemasan sejak dini.

Bahaya serius lainnya adalah ancaman predator daring terhadap anak yang aktif bermedia sosial. Video anak tertentu rentan memicu komentar negatif yang mengarah pada eksploitasi fisik.

Meski demikian, media sosial tetap dapat menjadi ruang kreativitas dan pengembangan diri. Syaratnya, platform digital harus digunakan secara sehat dengan pengawasan ketat orang tua.

Orang tua memiliki peran penting melindungi anak tanpa membatasi ruang kreativitas mereka. Anak harus tetap diperlakukan sebagai anak, bukan sekadar mesin konten demi popularitas.

Orang tua dianjurkan meminta persetujuan anak sebelum mengunggah konten mereka ke ruang publik. Penting pula menghindari berbagi lokasi sekolah, rutinitas harian, atau momen yang mempermalukan anak.

Pendampingan aktivitas digital menjadi sangat penting di era media sosial saat ini. Orang tua perlu memantau interaksi daring dan menjaga keseimbangan aktivitas dunia nyata.

American Academy of Pediatrics menyarankan penggunaan media digital melalui pendampingan intensif. Pendekatan ini memastikan anak berkembang sehat tanpa kehilangan masa kecil akibat tekanan digital.

Pada akhirnya, tanggung jawab perlindungan anak terletak di tangan orang tua masing-masing. Mari pastikan ruang digital menjadi tempat yang aman untuk bertumbuh bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....