Film Tumbal Proyek : Jembatan Megah, Tumbal Paling Tak Terlihat
- 20 Mei 2026 08:35 WIB
- Denpasar
RRI. CO.ID, Denpasar – Film “Tumbal Proyek” adalah petak‑uji horor yang menyelipkan kritik sosial di balik teror mistis di balik sebuah proyek pembangunan jembatan raksasa. Di permukaannya, film ini menghadirkan kengerian supernatural dan ritual gelap, tapi di dalamnya bergerak cerita tentang harga kemajuan, ketidakadilan, dan keluarga yang ditinggalkan demi megahnya infrastruktur. Film disutradarai oleh JeroPoint (Faisal Reza), yang kembali membawa nuansa horor Indonesia dengan gaya visual tegang dan skenario yang menggantung.
Tumbal Proyek adalah film horor Indonesia yang rilis secara nasional di seluruh bioskop Indonesia mulai 13 Mei 2026. Film ini tayang di jaringan bioskop besar seperti XXI, CGV, Cinepolis, dan bioskop‑bioskop utama di berbagai kota, sehingga bisa dinikmati oleh penonton dari Sabang sampai Merauke. Genre utamanya adalah horor supranatural, namun di dalamnya terpadukan juga unsur misteri dan drama keluarga yang cukup kuat, sehingga tidak sekadar menampilkan jump scare, tapi juga emosi yang berat.
Durasi film ini sekitar 106 menit atau kira‑kira 1 jam 46 menit, cukup panjang untuk mengembangkan kisah dan membangun ketegangan secara bertahap. Rating umurnya tergolong 17+ / dewasa, karena banyak adegan kengerian, isu kematian, dan suasana mencekam yang tidak terlalu ramah untuk penonton di bawah usia belasan.
Film ini berkisah tentang Yuda (Kiesha Alvaro), seorang pemuda yang hidup terlalu dekat dengan bayangan kematian ayahnya. Ayahnya tewas secara misterius di suatu proyek konstruksi raksasa, sebuah jembatan yang menghubungkan dua wilayah besar, konon dilakukan dengan cara‑cara yang dipertanyakan. Bersama adiknya (Callista Arum) dan ibu (Karina Suwandi), Yuda nekat menyusup ke dalam sistem perusahaan konstruksi itu, menyelidiki laporan kecelakaan, arsip kejadian aneh, dan kabar tentang “tumbal proyek” yang ternyata bukan sekadar mitos belaka.
Semakin dalam Yuda dan keluarga menyelidiki, semakin banyak kejadian yang tidak masuk akal: malam‑malam tenang yang berubah jadi derau mistis, suara pekerja yang menghilang, dan tanda‑tanda bahwa proyek itu tidak hanya dibangun di atas tanah, tapi juga di atas jiwa‑jiwa yang dikorbankan. Mereka menemukan jejak ritual, nama‑nama orang yang entah mengapa “hilang”, dan pola kematian yang selalu berulang ketika proyek dikejar tenggat waktu. Sampai pada titik di mana Yuda sendiri mulai merasa “dipanggil” untuk menjadi bagian dari siklus itu, seolah sejarah proyek itu hanya berhenti kalau ada satu nyawa baru yang rela atau terpaksa menjadi tumbal.
Yang membuat “Tumbal Proyek” berbeda dari horor biasa adalah lapisan kritik sosial yang terus menghantui di balik teror. Film ini menggambarkan bagaimana di balik megahnya jembatan, ada darah, pengorbanan, dan orang‑orang yang sengaja diheningkan. Di sinilah alur, pemilihan kata, dan ritme cerita bekerja dengan baik: menakutkan saat layar gelap, tapi juga menggugah ketika kita menyadari, mungkin di dunia nyata, ada proyek‑proyek besar yang dibangun di atas kisah yang tidak pernah diberitakan. Bagi penonton yang suka horor dengan otak, film ini pas untuk dinikmati di kursi bioskop gelap, dengan lampu mati, dan hati yang siap dibikin merinding sekaligus merenung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....