Film Cerita Lila : Kembar yang Dipisahkan Maut, tapi Cinta Tak Ikut Pergi
- 03 Jun 2026 12:10 WIB
- Denpasar
RRI. CO.ID, Denpasar – Ada cerita-cerita yang tidak cukup hanya dikisahkan sekali. Ada cerita yang terus hidup, terus berdenyut, dan terus mencari cara untuk sampai ke telinga orang yang mau mendengarkan bahkan ketika si empunya cerita sudah tidak lagi ada di dunia ini. Cerita Lila adalah salah satunya. Diadaptasi dari kisah nyata yang pertama kali digali oleh Sara Wijayanto melalui kanal YouTube DiaryMisteriSara dan berhasil ditonton lebih dari 11 juta kali, film ini kini hadir di layar lebar bukan untuk menakut-nakuti semata, melainkan untuk menyelesaikan sesuatu yang memang belum pernah selesai. Diproduksi oleh MVP Pictures dan resmi tayang mulai 18 Juni 2026 di seluruh bioskop Indonesia, Cerita Lila adalah film horor psikologis yang berani berbicara tentang sesuatu yang lebih menusuk dari hantu manapun: cinta seorang anak yang tidak tahu ke mana harus pulang.
Film ini disutradarai oleh Bobby Prasetyo, yang sejak pertama membaca kisah aslinya langsung menyadari bahwa ini bukan sekadar materi horor biasa. Diproduksi oleh Amrit Punjabi dari MVP Pictures dalam kolaborasi perdana bersama DiaryMisteriSara, dengan lokasi syuting utama di Yogyakarta yang suasana dan lanskapnya dipilih secara cermat untuk memperkuat nuansa kelam yang menjadi napas film ini. Naskahnya bersumber langsung dari penelusuran nyata Sara Wijayanto bukan fiksi yang dibesarkan dengan bumbu dramatis, melainkan rekonstruksi dari kejadian yang benar-benar pernah ada, yang kini hadir di layar dengan segala kegelapan dan keharuannya yang tidak dikurangi sedikit pun. Berikut semua yang wajib kamu catat sebelum mengambil kursi bioskop pada tanggal 18 Juni nanti.
Sebelum memahami terornya, kamu perlu memahami dulu kesedihannya. Lila dan Lili lahir bersama, tumbuh bersama, dan seharusnya menjadi dua sisi dari satu jiwa yang sama tapi takdir menuliskan akhir yang tidak pernah bisa diterima oleh akal sehat siapapun yang mendengarnya. Keduanya kehilangan nyawa bukan karena kecelakaan, bukan karena penyakit, tapi karena tangan yang seharusnya paling melindungi mereka di dunia ini: tangan ibu kandung mereka sendiri, Rahma (Shareefa Daanish), perempuan yang menyimpan luka dan dendam yang akhirnya menghancurkan apa yang paling ia ciptakan. Lila meninggal dalam usia sekitar 8–9 tahun, arwahnya terjebak dalam kenangan terakhir hidupnya dengan satu keinginan yang tidak bisa padam: ia ingin menemukan Lili, kembarnya yang memiliki fisik berbeda darinya dan yang keberadaannya di antara dua dimensi menjadi misteri yang harus ia pecahkan.
Di sisi lain dari kisah ini hadir Tari (Lutesha), seorang ibu tunggal berusia 30 tahun yang hidupnya sendiri sudah cukup berat untuk dibawa. Ia datang ke rumah lama itu bersama putrinya, Nia (Myesha Lin), dengan satu tujuan sederhana: menjual rumah warisan dan melanjutkan hidup ke halaman berikutnya. Yang tidak ia perhitungkan adalah bahwa rumah itu tidak kosong Lila masih ada di sana, menunggu dengan sabar di antara dinding-dinding yang menyimpan kenangan terakhirnya. Pertemuan menjadi semakin rumit ketika ternyata Nia putri Tari yang masih kecil dan polos memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang dewasa mana pun: ia bisa melihat Lila, berbicara dengannya, dan tanpa menyadarinya, menjadi satu-satunya jembatan yang bisa menghubungkan arwah itu dengan dunia yang masih bisa didengarnya.
Namun kehadiran Tari dan Nia di rumah itu ternyata bukan hanya membawa harapan bagi Lila ia juga mengusik sesuatu yang selama ini tertidur. Rahma, sang ibu yang membawa seluruh luka dan dosanya dari masa lalu, tergerak kembali oleh kehadiran dua orang asing yang mulai menyentuh wilayah yang tidak seharusnya mereka ganggu. Batas antara dunia nyata dan dunia lain mulai kabur dengan cara yang tidak bisa diabaikan lagi dan Tari, yang awalnya hanya ingin menyelesaikan urusan properti, mendapati dirinya terjebak di tengah ancaman yang semakin nyata dan semakin tidak bisa dijelaskan oleh logika biasa. Nia pun semakin dalam terperosok ke dalam komunikasinya dengan Lila, dan semakin berbahaya posisinya di antara dua dunia yang kini beradu tepat di hadapan mereka berdua.
Di puncak ketegangan itulah Nia melakukan satu hal yang mungkin paling masuk akal dalam situasi tidak masuk akal seperti itu: ia meminta bantuan Sara Wijayanto dan Wisnu Hardana, pasangan penelusur yang pernah menelusuri kisah Lila bertahun-tahun lalu. Kali ini Sara tidak datang dengan kamera YouTube dan tim penelusuran biasanya ia datang karena menyadari bahwa kisah yang pernah ia anggap sudah selesai ternyata belum pernah benar-benar berakhir, dan ada kebenaran yang masih tersimpan di lapisan paling dalam dari tragedi itu yang belum pernah terungkap ke permukaan. Saat Sara menyaksikan sendiri trailer film ini di depan layar, ia tidak sanggup menahan air mata dan itu sendiri sudah menjadi jawaban paling jujur tentang seberapa dalam luka yang coba diangkat oleh film ini ke permukaan.
Sutradara Bobby Prasetyo merangkum inti filmnya dalam satu kalimat yang tidak mudah dilupakan: "Cerita Lila bukan hanya tentang ketakutan, tetapi tentang luka keluarga, trauma yang tertinggal, dan jiwa-jiwa yang belum sempat pulang". Itulah yang membuat film ini berbeda dari ratusan film horor Indonesia yang sudah ada karena ketakutan terbesar di sini bukan datang dari sosok yang muncul tiba-tiba di balik pintu, melainkan dari pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban: apakah Lila akhirnya menemukan Lili? Apakah ada satu titik di mana dua jiwa yang dipisahkan dengan cara paling tidak adil ini bisa akhirnya berdamai?. Cerita Lila tayang mulai 18 Juni 2026 di XXI, CGV, dan bioskop seluruh Indonesia dan bagi siapapun yang pernah kehilangan seseorang jauh sebelum waktunya, film ini tidak hanya akan menakutkan. Ia akan terasa seperti kamu sedang duduk, mendengarkan, dan akhirnya memahami betapa beratnya menjadi seseorang yang tertinggal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....