Film Karya Joko Anwar : Ghost In The Cell, Punya Nilai Jual Internasional ke 86 Negara
- 13 Apr 2026 08:41 WIB
- Denpasar
RRI. CO.ID, Denpasar – Ghost in the Cell datang sebagai horor-komedi yang terasa beda dari film penjara kebanyakan. Bukan cuma menegangkan, film ini juga punya selera humor yang muncul di tengah suasana gelap, sehingga penonton tidak terus-menerus digiring ke rasa takut. Gagasan tentang hantu yang meneror isi lapas membuat film ini terasa liar, unik, dan sulit ditebak dari awal sampai akhir.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026. Penonton bisa menemukannya di jaringan bioskop nasional seperti CGV dan jadwal tayangnya juga sudah mulai muncul di berbagai platform pemesanan tiket film. Dengan begitu, film ini memang diposisikan sebagai salah satu tontonan besar di pertengahan April 2026.
Dari sisi teknis, Ghost in the Cell berdurasi 106 menit dan mendapat klasifikasi usia 17+. Film ini disutradarai sekaligus ditulis oleh Joko Anwar, sementara produksinya dikerjakan oleh Come and See Pictures dengan Tia Hasibuan sebagai produser. Nama Joko Anwar sendiri sudah lama identik dengan film-film genre yang kuat dan punya identitas visual yang tajam.
Kisahnya berlatar di Lembaga Pemasyarakatan Labuan Angsana, tempat para narapidana hidup dalam suasana penuh kekerasan, tekanan, dan ketidakadilan. Di dalam penjara itu, para napi tidak hanya harus berhadapan dengan sesama tahanan, tetapi juga dengan para petugas yang abusif dan kerap menindas. Situasi makin kacau ketika muncul sosok tak kasatmata yang mulai membunuh para penghuni lapas satu per satu.
Di tengah kondisi yang makin mengerikan, para napi dipaksa memikirkan cara bertahan hidup yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka mulai menyadari bahwa “energi negatif” justru bisa memancing kematian, sehingga mereka berusaha menjaga diri agar tetap positif, walau keadaan penjara terus mendorong mereka ke arah sebaliknya. Dari sinilah muncul ironi yang menarik: orang-orang yang biasanya saling bermusuhan justru harus bekerja sama demi selamat dari hantu dan kekuasaan manusia.
Pemeran yang terlibat antara lain Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Aming, Morgan Oey, dan beberapa nama lain yang memperkuat warna cerita. Kombinasi para pemain ini membuat film terasa punya tenaga dramatis sekaligus ruang untuk humor yang absurd, tanpa kehilangan rasa tegangnya. Film ini juga sempat mendapat sambutan baik saat pemutaran perdananya di Berlinale 2026, yang menandakan bahwa kisahnya punya daya tarik bukan hanya di dalam negeri.
Salah satu daya tarik paling besar film ini adalah kabar bahwa Ghost in the Cell telah terjual ke 86 negara bahkan sebelum tayang resmi di Indonesia. Prestasi itu menunjukkan bahwa film ini bukan hanya kuat di pasar lokal, tetapi juga punya nilai jual internasional yang sangat besar. Pencapaian tersebut membuat film ini terasa seperti bukti bahwa cerita horor Indonesia bisa menembus pasar global tanpa kehilangan identitasnya sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....