Saat Musik Diam-Diam Mengatur Cara Kita Berpakaian
- 28 Jan 2026 14:11 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar - Musik nggak cuma soal apa yang kita dengar, tapi juga soal apa yang kita pakai. Dari jaket kulit sampai jersey bola, dari celana gombrong sampai sepatu lusuh penuh cerita semuanya punya akar di musik. Vogue pernah menulis bahwa tren fashion paling kuat sering lahir dari subkultur musik, bukan dari runway. Opini santainya: gaya yang paling tahan lama biasanya datang dari panggung kecil, bukan catwalk mahal.
Ambil contoh rock ’n’ roll era 50–60an. Elvis dengan jaket kulitnya, The Beatles dengan setelan rapi tapi rebel. Gaya berpakaian mereka langsung jadi simbol sikap hidup. Rolling Stone mencatat bahwa fashion rock lahir dari kebutuhan tampil beda, bukan ingin terlihat mahal. Jaket kulit bukan statement luxury, tapi perlawanan. Dan sampai sekarang, vibes itu masih dipakai.
Masuk ke era punk dan hip hop, ceritanya makin kelihatan. Punk datang dengan ripped jeans, safety pins, dan kaus band sebagai bentuk protes visual. Hip hop membawa hoodie, sneakers, dan oversized outfit dari jalanan ke arus utama. The New York Times pernah menyebut hip hop sebagai genre musik yang “paling berhasil mengubah streetwear jadi bahasa global.” Jujur aja, sekarang susah bedain mana outfit nongkrong, mana outfit fashion show.
Britpop juga punya peran besar. Blur, Oasis, dan kawan-kawan bikin gaya kasual Inggris parka, track jacket, sneakers klasik terlihat keren tanpa usaha berlebihan. NME menulis bahwa Britpop membuat “looking normal” jadi sesuatu yang stylish. Opini ringannya: ini awal mula filosofi “nggak dandan tapi tetap keren” yang disukai Gen Z sekarang.
Di era digital, hubungan musik dan fashion makin cair. Rapper jadi ikon fashion, desainer gandeng musisi, dan TikTok bikin satu lagu bisa melahirkan satu tren outfit. Business of Fashion mencatat bahwa algoritma kini ikut menentukan tren gaya berpakaian. Tapi tetap saja, sumbernya sering balik ke musik yang lagi didengar banyak orang.
Menariknya, musik juga memengaruhi cara orang menolak tren. Grunge dulu hadir dengan flannel dan jeans lusuh sebagai bentuk anti-fashion. Sekarang, estetika “acak tapi niat” itu malah diromantisasi. Opini santainya: fashion selalu lucu yang dulu anti-tren, sekarang jadi tren.
Pada akhirnya, musik dan fashion punya hubungan yang terlalu dekat untuk dipisahkan. Musik memberi emosi, fashion memberi visualnya. Yang satu didengar, yang satu dilihat, tapi dua-duanya bicara soal identitas. Dan mungkin itu sebabnya, saat kita jatuh cinta sama satu genre musik, tanpa sadar lemari kita ikut berubah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....