TAKSU GADUNGAN: Gadungan Bersatu, Gadungan Mataksu
- 02 Agt 2025 15:41 WIB
- Denpasar
KBRN,Tabanan:
Rig Veda 10.191.2
“Samagrā vi vadiṣyatha.
Saṃ vadadhvaṃ saṃ vadadhvaṃ”
Mari berbicara bersama, mari berpikir bersama.
Pulau Dewata tak hanya tentang matahari terbenam di cakrawala Tanah Lot, atau tarian sakral yang menggugah sukma. Bali, lebih dari itu, adalah napas harmoni antara manusia, alam, dan budaya. Namun kini, napas itu sedikit tercekat. Bukan karena hilangnya tradisi, melainkan karena persoalan yang teramat nyata. Sampah yang perlahan mencemari wajah indah pulau surga ini.
Di tengah persoalan itulah, muncul secercah cahaya dari sebuah desa kecil bernama Gadungan di Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Yudis Bagus Tabanan 2025, melalui advokasinya yang diberi nama “Taksu Gadungan”, hadir membawa harapan baru. Seperti namanya yang berakar dari filosofi Bali, taksu berarti daya pikat spiritual, karisma yang muncul dari ketulusan dan keselarasan. Maka dari Desa Gadungan, lahirlah semangat gadungan metaksu desa kecil yang berani memancarkan pesonanya dengan cara yang bermakna.
Berangkat dari keprihatinan terhadap pengelolaan sampah, Yudis memperkenalkan Keranjang Takakura, metode pengolahan sampah organik yang sederhana namun efektif. Terbuat dari bambu, sekam, dan kompos, keranjang ini bukan sekadar alat, melainkan simbol perubahan. Tanpa listrik, tanpa bau, dan tanpa teknologi rumit, Takakura menjadikan sampah organik sebagai pupuk yang menyuburkan.
Pelatihan pembuatan keranjang ini sudah dilakukan di berbagai titik, termasuk di SMPN 3 Selemadeg Timur. Tidak hanya untuk kalangan dewasa, tetapi juga melibatkan anak-anak dan remaja agar mencintai lingkungan sejak dini. Gerakan ini pun disambut hangat oleh warga lokal seperti I Wayan Muliartana, yang mendukung gagasan ini sebagai bagian dari pelestarian nilai-nilai lokal yang bersih dan lestari.
“Saya tidak ingin Bali hanya bersih di mata turis, tapi juga bersih di hati warganya,” ujar Yudis dalam sesi wawancara.
Namun advokasi Taksu Gadungan tak berhenti di pengolahan sampah. Yudis menyadari bahwa keberlanjutan juga harus ditopang oleh keterbukaan informasi dan teknologi. Maka lahirlah website “Taksu Gadungan”, sebuah ruang digital untuk mempromosikan potensi desa gadungan, dan pusat informasi.
Website ini adalah wajah baru dari Community Based Tourism (CBT) yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada keterlibatan warga desa. Dengan menggandeng unsur Pentahelix pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media Taksu Gadungan menjelma menjadi gerakan kolaboratif. Melalui pendekatan humanis dan bertahap, karena ia percaya bahwa perubahan yang bertahan lama tidak lahir dari paksaan, melainkan dari pemahaman dan kebersamaan. Ia tidak datang membawa kemewahan, tetapi makna.
“Saya ingin Bali tetap indah, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk generasi berikutnya” kata Yudis, matanya menatap masa depan dengan yakin.
Melalui Taksu Gadungan, Yudis berani mengambil langkah. Sebuah inspirasi dari desa yang kecil, tapi tak pernah kehilangan taksunya.
*Penulis: Ni Putu Chelsea Meidayanti (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Tabanan).