Cista dan Aksi Tulus dari Bali Utara
- 02 Agt 2025 15:29 WIB
- Denpasar
KBRN,Singaraja: Di tengah sekolah yang terkenal dengan kehidupan asramanya, SMA Negeri Bali Mandara.
Ujaran hati mengetuk pelan hati seorang siswi menggema lebih kuat dari gemuruh bencana yang muncul tiba-tiba tanpa isyarat. Namanya Putu Cista Pramitha Dewi, dara Buleleng yang memilih langkah berbeda dari kebanyakan remaja seusianya.
Ia adalah permata langka Gumi Panji Sakti, menoreh berbagai prestasi di bidang non-akademik sebagai Duta Anak Bali 2024 Komisi Pendidikan serta PASKIBRAKA Provinsi Bali, dan kini melanjutkan kesempatannya sebagai Jegeg Buleleng. Di balik senyumnya yang hangat, Ia berkeinginan besar untuk menyelaraskan kesadaran sejak dini tentang bahaya yang mengintai tanah kelahiran mereka serta bagaimana menjaganya agar tetap aman, bersih, dan layak dihuni.
Kabupaten Buleleng, tanah kelahiran gadis ceria tersebut, menyimpan keindahan sekaligus ancaman. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sembilan
jenis potensi bencana, mulai dari tanah longsor, gempa bumi, banjir, hingga gelombang ekstrem. Longsor di Sukasada yang terjadi pada Januari 2025 hanya satu dari sekian peringatan bahwa alam bisa berubah rupa dalam sekejap. Namun, alam tidak sepenuhnya bersalah. Sampah plastik yang menumpuk di pesisir dan destinasi wisata memperlihatkan bahwa manusialah kadang lupa caranya mengasihi.
“Bali perlu kita cintai sepenuh hati, terlepas akan kekaguman keindahan yang dimiliki, Kita
juga harus siap menjaga dan bertahan ketika keadaan berubah.” ujar Cista suatu senja, selepas sesi edukasi bersama anak-anak panti asuhan. Ia tak hanya bersimpati, namun beramanat dengan menginisiasi program advokatif yang Ia namai KASIH (Edukasi Wisata Aman dan Bersih).
Program ini bukan sekadar tugas kompetisi. Lebih dari itu, KASIH menjadi ruang belajar bersama, tentang bagaimana literasi kebencanaan dan kesadaran lingkungan mampu menjadi bekal hidup yang tak kalah penting dari pelajaran matematika. Melalui pendekatan edukatif serta interaktif non-struktural, Cista bersama Semeton Jegeg Bagus Buleleng, mengunjungi sekolah-sekolah dan yayasan di Buleleng. Di sana, mereka menggelar sesi penyuluhan, diskusi interaktif, hingga pembuatan karya berupa infografis CHSE (Cleanliness, Health,
Safety, Environment). Di panti asuhan, anak-anak diajak menggambar, bercerita, dan menyusun potongan puzzle bertema keselamatan dalam berwisata.
“Saat mereka tertawa sambil menggambar, itu bukan berarti mereka tidak paham. Justru dari hal sederhana itu, mereka menyerap sesuatu yang kesadaran tentang bagaimana mencintai tempat mereka tinggal,” kata Cista dengan mata berbinar.
KASIH tidak berjalan sendiri. Program ini menggandeng berbagai pihak seperti BPBD sebagai sumber informasi kebencanaan, Forum Anak Daerah Kabupaten Buleleng sebagai sukarelawan, serta sekolah dan yayasan panti asuhan Ganesha Sevanam sebagai mitra lapangan. Prosesnya pun terstruktur, mulai dari pre-test untuk mengukur pemahaman awal, sesi edukasi, tanya jawab untuk membangun interaksi, hingga post-test sebagai refleksi pemahaman.
Hasilnya? Di beberapa sekolah, mulai terbentuk komunitas pelajar tangguh bencana dan peduli lingkungan. Di sisi lain, siswa-siswi mulai terbiasa memilah sampah dan memahami jalur evakuasi. Mereka tak hanya menerima materi, tapi mulai menjadi agen perubahan kecil di lingkungannya.
Namun, perjalanan ini tak tanpa tantangan. Ada keterbatasan waktu, minimnya sarana, dan kadang sulitnya mengharmonisasi materi pada usia yang beragam. “Meyakinkan anak-anak untuk peduli pada sesuatu yang belum mereka alami itu tidak mudah. Tapi ketika mereka sadar bahwa bencana bisa terjadi kapan saja, mereka mulai jengah dan waspada” tutur Cista.
Di tengah hingar-bingar narasi besar tentang pariwisata Bali, cerita dari Bali utara ini mungkin terdengar sunyi. Tapi justru di sanalah makna mendalamnya. Bahwa perubahan tidak selalu datang dari panggung besar, kadang dari ruang kelas kecil yang penuh coretan warna, dari tanya polos seorang anak, atau dari niat tulus seorang siswi yang ingin mencegah tempat tinggalnya runtuh karena ketidaktahuan.
Dengan KASIH, Cista tak hanya menanamkan pesan, tapi juga harapan. Harapan bahwa generasi muda bukan sekadar penonton dari drama perubahan iklim atau korban dari bencana, melainkan pelaku yang tahu cara berdampak, cara mengasihi, dan cara melindungi. Karena Bali, merupakan tolak ukur keindahan. Dan keindahan itu layak dijaga, dengan hati kecil untuk aksi yang kecil melalui kasih.
*Penulis: Ketut Andika Pratama Dwi Payana (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Buleleng).