Bercermin dari Pengalaman, Lahirkan Pemuda yang Berdaya

  • 02 Agt 2025 15:24 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Singaraja: Ketika kita menyebut kata "Bali", apa yang langsung terbayang di benak kita? Bagi sebagian besar orang, pulau ini identik dengan keindahan pantainya yang memikat, panorama alam yang eksotis, serta kearifan lokal yang masih sangat kental terasa. Namun, Bali bukan sekadar destinasi wisata yang penuh dengan tempat indah. Di balik itu semua, Bali juga menyimpan banyak kisah inspiratif dari generasi mudanya yang mulai sadar akan peran penting mereka dalam menjaga dan memajukan daerahnya.

Salah satu sosok pemuda inspiratif itu adalah Andika Pratama, siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Singaraja. Beranjak dari pengalaman pribadinya dan kesadarannya akan pentingnya keselamatan wisatawan, Andika telah menunjukkan bahwa pemuda bukan hanya bisa menjadi bagian dari masyarakat, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan yang aktif, berdaya, dan berdampak.

Pada sebuah akhir pekan yang tenang, Andika memutuskan untuk sejenak menjauh dari hiruk-pikuk tugas dan tanggung jawab sekolah. Sebagaimana siswa pada umumnya, beban akademik sering kali terasa melelahkan. Dalam wawancara yang berlangsung di kediamannya di Jalan Pulau Obi, Desa Banyuning, Buleleng pada 27 Juli 2025, Andika mengungkapkan bahwa ia pernah berada dalam titik kelelahan mental atau yang kini dikenal dengan istilah burnout. Dalam kondisi seperti itu, ia menemukan ketenangan dalam alam, khususnya di Air Terjun Kembar, Gitgit, Sukasada.

“Waktu itu, rasanya kepala penuh, tubuh capek, dan semangat menurun. Aku butuh rehat, tapi bukan sekadar tidur di rumah. Maka aku pilih pergi ke air terjun. Rasanya, alam bisa menyembuhkan,” katanya sambil tersenyum.

Dengan harga tiket yang sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp15.000,00 hingga Rp20.000,00 per orang, serta perjalanan trekking selama 20 menit dari pintu masuk, destinasi ini memang menjadi tempat healing yang ideal bagi pelajar seperti Andika. Namun, di tengah keindahan yang dinikmatinya, ia justru menemukan kekurangan yang cukup mencolok.

Andika menyadari bahwa meskipun tempat wisata tersebut memiliki potensi yang luar biasa, namun sisi keamanannya masih sangat minim. Tidak ditemukan peta rute perjalanan, plang evakuasi, papan peringatan, ataupun rambu-rambu yang menunjukkan arah dan titik kumpul saat kondisi darurat. Padahal, aspek keamanan merupakan elemen vital dalam pengelolaan pariwisata.

Ketiadaan fasilitas penunjang keselamatan tidak hanya berisiko bagi wisatawan, tetapi juga dapat menurunkan nilai dari suatu destinasi. “Wisata seharusnya bukan hanya indah, tetapi juga aman. Sebab, kita tidak pernah tahu kapan bahaya bisa datang,” ungkap Andika. Dari kegelisahan itu, lahirlah ide. Bagi sebagian orang, mungkin hal ini adalah tugas pemerintah atau dinas pariwisata. Namun bagi Andika, ini adalah peluang kontribusi. Ia tidak tinggal diam.

Dengan semangat dan kepedulian tinggi, Andika menginisiasi sebuah gerakan yang diberi nama "ALERT", akronim dari Action for Local Emergency and Tourism. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat serta pengelola wisata terhadap potensi bencana atau keadaan darurat di kawasan wisata alam.

Program ALERT dimulai dari hal sederhana, yakni pemasangan plang evakuasi, papan informasi, titik kumpul, dan jalur evakuasi yang dilengkapi dengan teknologi augmented reality (AR). Teknologi ini memungkinkan wisatawan untuk melihat simulasi evakuasi secara interaktif melalui perangkat gawai mereka, menjadikannya lebih menarik dan mudah dipahami, terutama oleh generasi muda.

Tidak berjalan sendiri, Andika berhasil menggandeng Semeton Jegeg Bagus Buleleng, serta menjalin kolaborasi dengan Plan Indonesia dan Yayasan Prudential. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa sinergi antara komunitas lokal, organisasi nasional, dan sektor swasta dapat melahirkan inovasi nyata yang berdampak positif.

Melalui program ALERT, Andika tidak hanya menyampaikan kritik terhadap sistem yang ada, tetapi juga menawarkan solusi konkret yang aplikatif. Dampaknya pun mulai terlihat. Beberapa destinasi wisata di Buleleng kini mulai memperhatikan aspek keselamatan, dan pengunjung merasa lebih nyaman serta percaya diri saat berwisata.

Keberhasilan ini menjadi cerminan nyata bahwa pemuda bisa berdaya, tidak harus menunggu jadi “orang penting” dulu. Andika membuktikan bahwa langkah kecil pun, jika dilakukan dengan konsisten dan kolaboratif, bisa menjadi gerakan besar.

Dalam konteks pariwisata Bali secara keseluruhan, inisiatif semacam ini sangat dibutuhkan. Dengan jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat, penting bagi Bali untuk tidak hanya menjual pesona visual, tetapi juga menjamin kenyamanan dan keselamatan setiap pengunjung. Investasi dalam aspek keamanan adalah investasi jangka panjang bagi keberlangsungan citra Bali sebagai tujuan wisata dunia.

Apa yang dilakukan oleh Andika sesungguhnya adalah panggilan bagi generasi muda lainnya. Di tengah era digital, di mana informasi dapat diakses dalam hitungan detik, pemuda memiliki peluang besar untuk berperan aktif, baik sebagai inovator, relawan, pendidik, maupun pelaku perubahan sosial. Kisah Andika mengajarkan bahwa berdaya tidak harus menunggu dewasa. Ia menyadarkan kita bahwa perubahan bisa dimulai dari kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan kemauan untuk mengambil tindakan. Semangatnya adalah semangat gotong-royong, inovasi, dan keberanian untuk berbeda.

Bali adalah pulau dengan sejuta pesona, tetapi di balik lanskap yang indah, dibutuhkan upaya nyata untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan bersama. Pemuda seperti Andika Pratama adalah contoh nyata dari harapan masa depan Bali yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Sebagai penutup, kutipan dari Andika berikut bisa menjadi renungan kita semua:

“It’s not hard, it’s just new.” Sesuatu yang baru bukan berarti sulit. Yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk memulai, ketekunan untuk melanjutkan, dan kepercayaan bahwa satu aksi kecil bisa membawa perubahan besar.

*Penulis: Putu Cista Pramitha Dewi (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Buleleng).


Rekomendasi Berita