Ketika Bali Dijaga, Dikuatkan, dan Dihidupkan Kembali
- 02 Agt 2025 15:21 WIB
- Denpasar
KBRN,Bangli: “Ikon sejati bukan hanya dijaga, tapi juga harus dikembangkan. Dan saat kita menjaga Bali, kita sedang menjaga jati diri kita sendiri.”
Di tengah gemuruh riuh derap langkah modernitas dan desakan industri pariwisata yang tak kenal jeda, sebuah gerakan sederhana hadir dengan penuh makna, lahir dari hati generasi muda Bali, SANTHI – Safeguarding Authenticity and Newforming Treasures into a Holistic Icon, hadir dan beraksi untuk kesejahteraan Bali. Diprakarsai oleh I Dewa Putu Merta Aditya, SANTHI bukan sekadar proyek advokasi biasa. Ia adalah suara batin kolektif yang berseru dengan penuh keyakinan: Bali bukan hanya untuk dikagumi tetapi untuk dijaga, diolah, dan ditumbuhkan kembali.
SANTHI merupakan gerakan advokasi generasi muda Bali yang menekankan pentingnya menjaga keaslian warisan budaya dan spiritualitas, sekaligus mengembangkan ikon-ikon baru dari potensi lokal sebagai solusi atas ketergantungan ekonomi Bali terhadap sector pariwisata. Oleh karenanya menjadi penting untuk melakukan analisis terhadap potensi Bali yang berpeluang besar untuk berkembang selain pariwisata, gerakan ini menawarkan alternatif: membangkitkan kekuatan lokal, menyentuh akar-akar tradisi, dan menciptakan ikon baru dari pulau dewata Bali.
Bukan tanpa alasan, Pandemi COVID-19 sempat menjadi tamparan kolektif bagi Bali utamanya kemerosotan yang terjadi pada sector ekonomi. Saat turis berhenti datang, ekonomi lumpuh dan bergulir turun dengan cepat. Ketergantungan terhadap satu sektor membuat banyak masyarakat kehilangan sumber pendapatan dan pegangan hidup. Namun bagi Adit, krisis itu adalah momen kontemplatif. “Karena sebagai yowana bali saya sadar, sudah saatnya Bali bangkit bukan dari yang asing, tapi dari dirinya sendiri,” ujarnya dalam sebuah bincang hangat kami. Tentunya Adit tidak berjalan sendiri melainkan menggerakkan komunitas lintas disiplin, ia merangkul seluruh lapisan masyarakat dengan mengandalkan koordinasi yang pentahelix karena seluruh lapisan masyarakat haruslah sadar dan peduli. Mereka bukan hanya saksi, tapi juga pelaku transformasi budaya yang hidup dan relevan.
Sampai saat ini SANTHI yang menjadi advokasi Adit sebagai yowana bali peduli telah melalui proses kampanye digital yang diatur dengan sedemikian rupa untuk pemikat hati khalayak agar turut membersamai untuk segera beraksi. Melirik lebih jauh desa adat di Karangasem, subak-subak di Bangli dan Kintamani, hingga situs spiritual di Gianyar, langkah kaki para penjaga ikon muda akan terus berpijak dan melangkah lebih dalam. Gerakan ini hadir dalam bentuk aksi langsung dan akan terpublikasi dalam bentuk konten digital yang inspiratif dan menarik.
Ada lima program unggulan yang dirancang dan dikemas dalam tajuk SANTHI secara kreatif dan berkelanjutan:
1. SANTHI RESIK
Mengubah aksi bersih-bersih menjadi edukasi reflektif. Setiap ikon yang dibersihkan, diberi makna. Setiap sampah yang diangkat, adalah simbol tanggung jawab kolektif.
2. Inovasi Pertanian Ilmiah
Bersama “Kak Bintang”, SANTHI memproduksi pupuk cair dan asam amino alami dari limbah organik seperti ampas kopi, kulit buah, dan sisa fermentasi.
Prosesnya menggunakan teknik fermentasi mikroorganisme lokal untuk menghasilkan cairan kaya nitrogen dan unsur hara, serta asam amino yang mempercepat pertumbuhan tanaman, memperkuat ketahanan terhadap hama, dan menjaga struktur tanah secara alami. Program strategis ini dirancang guna mengadaptasikan kehidupan masyarakat bali yang kaya akan budaya dan tradisi dengan pemanfaatan lahan produktif di bali “Kami ingin membuktikan bahwa pertanian Bali bisa tetap spiritual sekaligus saintifik,dengan adanya dukungan, kolaborasi, dan kreasi dari generasi muda” jelas Adit. Di tengah ancaman krisis pupuk kimia, solusi ini menjadi urgensi ekologis dan ekonomi. Bukan hanya lebih ramah lingkungan, tapi juga lebih terjangkau dan kontekstual dengan alam Bali.
3. IKON BICARA
Dokumenter pendek berdurasi satu menit yang menggambarkan ikon Bali dari sisi sunyi: upacara kecil, sesajen pagi, aroma lawar tua di sudut desa. “Yang tak masuk brosur pariwisata, justru itulah jiwa Bali,” kata salah satu pembuat video.
4. SANTHI TALKS
Percakapan ringan dan reflektif bersama penjaga warisan lokal: perajin anyaman tua di Klungkung, petani garam dari Amed, hingga seniman yang masih menenun motif sakral secara turun-temurun.
5. Kampanye #IKONYANGHIDUP
Gerakan daring yang mengajak generasi muda menceritakan kembali ikon budaya versi mereka sendiri. Dari motif kain, cerita leluhur, hingga resep keluarga yang nyaris hilang, semua menjadi bagian dari identitas baru yang bersumber dari akar.
Karena budaya bukan sekadar peninggalan, tapi juga pijakan untuk melangkah ke depan.
Saat ekonomi global goyah, warisan lokal bisa menjadi jangkar yang menenangkan asal dijaga dan dikembangkan secara bijak. SANTHI memadukan nilai-nilai Tri Hita Karana harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan dengan semangat Tat Twam Asi: aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Maka menjaga Bali bukan hanya soal lahan bali dan segala bentuk kekayaan budaya serta tradisi, namun juga tentang merawat batin dan jati diri pulau dewata Bali.
“Kita tak hanya ingin melestarikan, tapi juga mencipta. Karena Bali bukan museum, Ia adalah jiwa yang terus tumbuh dan harus lestari.” Melalui media sosial, edukomik, video mini-talk, dan podcast, SANTHI menjangkau lebih dari sekadar pelaku lapangan. Mereka membentuk ekosistem komunikasi yang edukatif, interaktif, dan membumi. Bukan sekadar viral, tapi mengakar dalam kesadaran kolektif. Kampanye visual seperti “Ikon Kita, Tanggung Jawab Kita” dan tagar seperti #SANTHIBali dan #IkonYangHidup niscaya menggugah ribuan anak muda untuk melihat Bali lebih dalam dan mendasar. Bali bukan sekadar panggung seni,
“Bali bukan hanya destinasi. Ia adalah refleksi dari siapa kita, dan siapa kita masyarakat bali.” SANTHI bukan hanya tentang hari ini namun Ia tentang aksi berkelanjutan guna menciptakan masa depan Bali yang lebih bijak, berakar, dan berdaya oleh, dari, dan untuk masyarakat Bali. Karena di dunia yang bergerak cepat, kadang langkah paling radikal adalah menjaga apa yang tidak terlihat, dan menciptakan apa yang nyaris terlupa.
*Penulis: Made Ayu Nisa Striratna (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Bangli).