Menghidupkan Gending Rare Ditengah Tawa Anak-Anak
- 02 Agt 2025 15:19 WIB
- Denpasar
KBRN,Badung: Ketika dunia anak-anak semakin akrab dengan gawai dan hiburan digital, sebuah inisiatif tumbuh dari Kabupaten Badung membawa secercah cahaya. Cahaya itu bernama PARAMITHA, singkatan dari Papelajahan Rare Mirengin Gita, sebuah gerakan kecil namun bermakna yang digagas oleh Putu Dhivana Putra Tangkas Kori Agung, Bagus Kabupaten Badung 2025.
Berangkat dari kegelisahan akan tergerusnya nilai budaya Bali dalam kehidupan anak-anak masa kini, Dhivana menyadari bahwa generasi penerus membutuhkan media yang menyenangkan untuk kembali mengenal akar mereka. “Anak-anak adalah pemimpin masa depan. Jika mereka tumbuh tanpa mengenal jati diri budayanya, maka siapa yang akan menjaga warisan ini kelak?” adalah pertanyaan mendasar yang terus membayang di benak Dhivana, menjadi landasan kuat lahirnya PARAMITHA sebagai ruang pelestarian budaya sejak dini.
PARAMITHA lahir sebagai ruang edukasi budaya yang penuh tawa, nyanyian, dan keakraban. Dhivana memulainya dengan cara sederhana yaitu bertanya langsung kepada anak-anak melalui kuis interaktif untuk memahami seberapa jauh mereka mengenal budaya Bali, khususnya gending rare atau lagu-lagu tradisional anak-anak Bali yang dulu akrab terdengar olehnya.
Hasilnya, walaupun sebagian anak mengetahui beberapa gending rare namun ada beberapa anak-anak yang bahkan belum familiar dengan lagu-lagu seperti Goak Maling. Dari sanalah ia kemudian menyusun pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan. Ia hadir di tengah anak-anak, tidak sebagai guru, tetapi sebagai kakak yang mengajak adiknya bermain. Bersama-sama mereka menyanyikan gending rare, menari, dan tertawa dalam lingkaran kecil yang hangat dan penuh makna. Salah satu kegiatan PARAMITHA berlangsung di SD Negeri 3 Sangeh, Kabupaten Badung, di mana Dhivana mengajak anak-anak bermain permainan tradisional sambil menyanyikan gending rare.
Dalam suasana yang hangat dan akrab, ia menyisipkan pembelajaran budaya secara alami serta melakukan evaluasi sederhana untuk melihat sejauh mana pemahaman anak-anak meningkat. Pendekatan ini menjadikan budaya bukan sebagai beban warisan, melainkan sebagai bagian dari pengalaman bermain yang menyenangkan dan bermakna. PARAMITHA adalah bentuk nyata dari keyakinan bahwa pelestarian budaya harus dimulai sejak dini, dan bukan dengan cara menggurui, tetapi dengan merangkul. Melalui gending rare, Dhivana ingin menanamkan rasa cinta terhadap budaya Bali sejak usia paling muda, menjadikannya akar yang kokoh dalam perjalanan hidup anak-anak.
Di era serba digital ini, Dhivana pun tidak menutup diri dari media sosial. Ia membagikan cuplikan kegiatan PARAMITHA dalam bentuk video singkat yang dikemas artistik dan menyentuh. Reels yang ia unggah tidak hanya memperlihatkan wajah ceria anak-anak, tetapi juga menyisipkan pesan bahwa budaya tidak boleh berhenti di generasi lalu. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” tulis Dhivana dalam salah satu unggahannya. Kalimat yang sederhana, namun menjadi penegas bahwa gerakan kecil bisa membawa gema besar, selama dilakukan dengan cinta dan keyakinan.
PARAMITHA bukan hanya tentang menyanyikan lagu lama. Ia adalah upaya menyemai nilai bahwa menjadi anak Bali tidak hanya berarti lahir di Bali, tetapi juga tumbuh dengan budaya Bali dalam hati. Dhivana membuktikan, bahwa menjadi Bagus tidak hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang gagasan, gerakan, dan ketulusan untuk menjaga warisan leluhur.
*Penulis: Ni Made Lifia Kristina (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Badung).