Gerakan Pelestarian Anyaman Tradisional dari Desa Angseri

  • 02 Agt 2025 15:17 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Tabanan: Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis akar budaya lokal, hadir sebuah gerakan bernama Ananta Rupa di Desa Angseri, Kabupaten Tabanan. Gerakan ini merupakan advokasi yang memfokuskan diri pada pelestarian budaya anyaman, sebuah warisan leluhur yang telah menjadi identitas masyarakat Bali, khususnya di daerah perdesaan. Anyaman bukan sekadar hasil kerajinan tangan, melainkan simbol keterhubungan manusia dengan alam, nilai ketekunan, serta warisan spiritual yang kaya makna. Namun, generasi muda saat ini semakin menjauh dari praktik ini.

Melihat realitas tersebut, para pemuda di Desa Angseri menginisiasi Ananta Rupa sebagai bentuk aksi nyata untuk memastikan tradisi ini tidak punah. Mengusung makna “bentuk tak terbatas”, Ananta Rupa tidak hanya menjadi gerakan pelestarian, tetapi juga transformasi. Komunitas ini membuka ruang edukasi interaktif, pelatihan, dan lokakarya bagi pemuda desa untuk mengenal kembali keterampilan menganyam, memadukannya dengan desain modern, serta memperluas jangkauan melalui kanal digital.

Lahir dari keprihatinan terhadap krisis lingkungan dan memudarnya budaya lokal, gerakan Ananta Rupa hadir sebagai wujud advokasi pelestarian anyaman tradisional di Desa Angseri, Kabupaten Tabanan. Gerakan ini tidak hanya berbicara soal budaya, tetapi juga merespons secara langsung Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pengurangan Penggunaan Plastik Sekali Pakai.

Salah satu tokoh penting dalam gerakan ini adalah Chelsea, perwakilan dari Jegeg Tabanan yang juga tergabung dalam UMKM lokal anyaman Desa Angseri. Melalui peran aktifnya, Chelsea mendorong kolaborasi antara pengrajin senior dengan anak-anak muda dalam pembudidayaan keterampilan anyaman secara berkelanjutan. Ia menyatakan bahwa gerakan ini adalah upaya konkret menjaga warisan agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.

“Ananta Rupa merupakan wujud nyata dari pelestarian budaya anyaman yang diwariskan ke generasi muda untuk menjaga anyaman ini agar lestari,” ujar Chelsea dalam sebuah wawancara. Komitmennya memperlihatkan bahwa pelestarian bukan hanya soal mempertahankan bentuk, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kultural yang terkandung dalam proses berkarya.

Sejak awal 2024, Ananta Rupa aktif menyelenggarakan kegiatan di berbagai titik desa, mulai dari rumah perajin, balai masyarakat, hingga sekolah-sekolah. Kegiatan mereka meliputi pengajaran teknik dasar anyaman, pengembangan produk kreatif seperti tas, hiasan rumah, dan aksesoris berbahan alami, serta pemasaran melalui platform digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Gerakan ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat dan mulai menarik perhatian wisatawan serta komunitas kreatif dari luar daerah. Kolaborasi antara tradisi dan inovasi menjadi daya tarik tersendiri yang menjadikan Ananta Rupa sebagai contoh advokasi budaya yang relevan dengan zaman.

Melalui Ananta Rupa, para pemuda Desa Angseri bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menciptakan ruang ekonomi baru yang berlandaskan pada kekayaan lokal. Mereka membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan kreativitas dan pemberdayaan masyarakat. Kini, Ananta Rupa berkomitmen memperluas jangkauannya, mempererat kerja sama dengan lembaga pendidikan, komunitas kreatif, hingga pemerintah daerah demi mendukung regenerasi pengrajin yang berdaya saing.

Harapan mereka jelas: menjadikan anyaman sebagai kebanggaan, bukan kenangan. Gerakan ini adalah pengingat bahwa warisan budaya bukan untuk disimpan dalam museum, melainkan untuk terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tangan generasi muda seperti Chelsea dan komunitas Ananta Rupa, anyaman tradisional Bali tetap bernapas dalam bentuk-bentuk baru, tanpa kehilangan jiwanya.

*Penulis: I Dewa Made Yudistira Satria Dharmasadu (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Tabanan).


Rekomendasi Berita