Jejak Langkah Gadis Teater dari Gumi Lahar
- 02 Agt 2025 15:12 WIB
- Denpasar
KBRN,Amlapura: Di antara gemuruh pariwisata Bali yang terus menggelegar, terselip suara lirih dari timur pulau Bali seorang gadis remaja yang menyulam harapan di tengah nelangsa lingkungan. Dialah Ida Ayu Mita Maha Dewi, atau lebih dikenal sebagai Dayu Mita, pelajar SMA asal Karangasem yang juga merupakan seorang Jegeg Karangasem tahun 2024. Bukan hanya cantik dan cerdas, Dayu dikenal karena kecintaannya pada dunia seni peran dan kepeduliannya yang mendalam terhadap isu lingkungan. Gadis kelahiran 20 Januari 2008, sejak kecil Jegeg Dayu tumbuh di lingkungan yang dekat dengan alam dan nilai-nilai budaya Bali. Hal itu membentuk kepeduliannya terhadap pelestarian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Permasalahan lingkungan terkhusus sampah di Provinsi Bali terus menjadi momok dan nestapa dibalik gemerlapnya pariwisata. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah di Bali pada tahun 2024 mencapai sekitar 1,2 juta ton. Banyak kawasan masih mengalami keterbatasan dalam hal infrastruktur, sarana pemilahan, dan alur pengangkutan sampah yang efisien. Kondisi ini membuat sampah sering menumpuk di lingkungan, terutama di daerah padat penduduk dan kawasan wisata. Dengan pengelolaan yang lebih terarah dan kolaborasi berbagai pihak, persoalan ini masih sangat mungkin diatasi secara bertahap. Namun demikian, persoalan sampah bukan hanya soal fasilitas dan manajemen, tetapi juga kebiasaan membuang semua jenis sampah langsung ke TPA tanpa memilahnya terlebih dahulu, baik sampah organik yang sebenarnya bisa diolah menjadi kompos, sampah anorganik yang masih bisa dimanfaatkan ulang, maupun sampah residu yang seharusnya dipisahkan dengan benar.
Berangkat dari keprihatinan itu, Jegeg yang kerab disapa Dayu Mita ini menggagas sebuah gerakan lingkungan bertajuk "Eling" sinonim dari "Ingat" dalam bahasa Bali. Gerakan Eling bukanlah gerakan besar yang dimulai dengan meja diskusi yang luas. Justru, Eling tumbuh dari obrolan kecil dengan sebaya hingga aksi sederhana seperti memilah sampah rumah tangga dan mendaur ulang barang-barang tak terpakai. Jegeg Dayu percaya, perubahan besar bermula dari langkah kecil yang konsisten. Lewat gerakan ini, ia mengajak masyarakat untuk kembali mengingat tanggung jawab mereka terhadap bumi. "Kadang, kita terlalu sibuk mengejar yang besar sampai lupa memulai dari yang paling dekat. Padahal, perubahan bisa lahir dari lingkungan kita sendiri," ujar Dayu dengan nada yang tenang namun penuh keyakinan.
Eling pertama kali digerakkan pada Februari 2025, dimulai dari lingkungan terdekat di Karangasem. Dengan dukungan dari semeton Jegeg Bagus Karangasem serta beberapa penggiat lingkungan, Dayu mulai membangun komunitas kecil yang berfokus pada edukasi lingkungan. Dengan menyasar ibu rumah tangga dan pelajar dua kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk budaya baru tentang sampah dan konsumsi. "Kalau ibu-ibu sudah paham cara memilah sampah, dan anak-anak sejak kecil terbiasa melakukannya, maka budaya baru akan terbentuk secara alami. Kami tidak ingin memberi beban, tapi mengajak dengan cara yang menyenangkan," lanjutnya.
Di usia yang masih belia, Dayu telah memahami bahwa advokasi bukan tentang menjadi pahlawan, melainkan tentang menjadi bagian dari solusi. Dalam banyak kesempatan, ia mengingatkan bahwa lingkungan bukanlah masalah orang lain, lingkungan adalah cermin dari cara kita hidup. Komitmen itu ia wujudkan dengan mengajak masyarakat mulai dari hal sederhana, seperti memilah sampah dari rumah. Dalam berbagai kegiatan edukasi, Dayu juga memperkenalkan kebijakan-kebijakan yang mendukung gerakan ini, seperti Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber, dan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 09 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah. Bagi Dayu, aturan-aturan ini bukan sekadar dokumen, tetapi alat untuk menumbuhkan kesadaran dan membangun kebiasaan baru yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.
Melalui Eling, Dayu tak hanya berbicara soal kesadaran, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata. Bersama komunitasnya, ia aktif mengadakan pelatihan pembuatan eco-enzym dari limbah dapur rumah tangga sebagai upaya sederhana namun berdampak untuk mengurangi sampah organik. Ia juga rutin mensosialisasikan pengurangan penggunaan kemasan plastik sekali pakai, seperti kantong plastik, sedotan plastik, dan styrofoam, terutama dalam kegiatan upacara atau acara adat yang seringkali menghasilkan banyak sampah. Selain itu, Dayu mendorong masyarakat terutama anak muda untuk beralih ke botol minum guna ulang seperti tumbler, sebagai langkah kecil yang bisa menekan penggunaan botol plastik di bawah 1000 ml yang selama ini banyak ditemukan tercecer di lingkungan. Ia juga mengedukasi pentingnya pengolahan sampah organik berbasis sumber, seperti membuat kompos atau eco-enzym, agar tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir. Untuk sampah anorganik, ia mengajak masyarakat memilahnya sesuai prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), misalnya dengan mengumpulkan botol plastik untuk didaur ulang atau memanfaatkan ulang barang bekas. Sementara itu, sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali dipisahkan secara khusus untuk kemudian dikirim ke TPA agar tidak mencemari jenis sampah lainnya.
Gerakan Eling yang digagas Dayu tidak berjalan sendiri. Ia aktif menjalin kolaborasi dengan Semeton Jegeg Bagus Karangasem, Jegeg Bagus Bali, dan jejaring Jegeg Bagus dari berbagai kabupaten/kota lainnya di Bali. Bersama-sama, mereka membangun sinergi dalam semangat swadaya anak muda yang peduli akan masa depan lingkungan dan budaya Bali. Gerakan ini menjadi bukti bahwa peran duta pariwisata dan budaya tidak berhenti pada panggung seremonial, tetapi juga hadir nyata di tengah masyarakat. Sebagai mitra strategis pemerintah, mereka bergerak lewat aksi-aksi sederhana namun bermakna dari edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, hingga kampanye gaya hidup ramah lingkungan di komunitas. Inilah wajah baru generasi muda Bali: tidak hanya berbicara tentang identitas dan warisan budaya, tetapi juga turun tangan langsung menjaga tanah yang mereka cintai.
Dari Gumi Lahar yang sunyi, Dayu Mita menyibak mimpi yang tidak hanya tentang dirinya, tapi tentang pulau yang ia cintai. Ia tumbuh bersama gemuruh laut, bisik angin Gunung Agung, dan keseharian yang lekat dengan alam. Di balik keindahan itu, ia belajar bahwa menjaga Bali bukan hanya tugas pemerintah atau segelintir orang, tapi tanggung jawab bersama. Bersama “Eling”, ia mengajak “lewat aksi nyata dan ketulusan”. Ia membangun panggung baru bukan untuk pertunjukan, tapi untuk perubahan. Jejak langkahnya sebagai gadis teater tak hanya membekas di atas panggung, tetapi juga di jalan-jalan desa, di ruang-ruang edukasi, dan di hati mereka yang tergerak oleh semangatnya. Dari seni ia bersuara, dari lingkungan ia berpijak menyatukan keduanya dalam langkah kecil yang berarti bagi masa depan Bali.
*Penulis: Made Agus Mahendra (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Karangasem)