Sampah DiDesa Tuntas DiDesa, Aksi Perubahan Berkelanjutan
- 02 Agt 2025 15:09 WIB
- Denpasar
KBRN,Jembrana: Di balik keheningan dan kesederhanaan sebuah desa, tersimpan berbagai tantangan yang sering luput dari perhatian. Salah satunya adalah persoalan sampah. Sampah adalah sisa kegiatan manusia maupun alam yang sudah tidak digunakan lagi, baik itu limbah rumah tangga, sisa makanan, plastik, kertas, logam, hingga bahan organik lainnya. Meski terlihat sepele, sampah bisa menjadi permasalahan serius apabila tidak ditangani dengan baik. Jika dibiarkan, sampah dapat mencemari lingkungan, menjadi sumber penyakit, menimbulkan bau tak sedap, hingga memicu konflik sosial. Permasalahan ini bukan hanya milik kota besar, tetapi juga ada di pedesaan.
Beranjak dari kesadaran, seorang Jegeg Jembrana yang berasal dari Desa Belimbingsari, Kabupaten Jembrana, bernama Ni Luh Luna Cahya Christie, menggagas sebuah gerakan lingkungan yang sederhana namun bisa berdampak besar. Luna adalah sosok generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Menurutnya, perubahan besar tidak harus selalu dimulai dari langkah yang besar. Namun, perubahan paling nyata dimulai dari langkah kecil seperti dari lingkungan yang terdekat. Dengan semangat tersebut, Luna mencetuskan sebuah program dengan yang bernama nama “Sampah di Desa, Tuntas di Desa.”
Program ini merupakan inisiatif pengelolaan sampah berbasis lokal yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan seluruh permasalahan sampah langsung di tingkat desa, tanpa mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di luar wilayah desa. Konsep ini mengedepankan prinsip dari desa, oleh desa, dan untuk desa. Artinya, seluruh proses mulai dari edukasi, pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali dilakukan oleh masyarakat setempat secara mandiri.
Program ini mendorong masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap sampah. Sampah bukan lagi dianggap sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki potensi ekonomi dan sosial. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat dijadikan pupuk, cairan serbaguna, bahkan kerajinan tangan yang memiliki nilai jual.
Inisiatif ini lahir dari kepedulian pribadi Ni Luh Luna Cahya Christie, seorang Jegeg Jembrana yang aktif dalam kegiatan sosial dan kepemudaan di desanya. Sebagai representasi generasi muda, Luna tidak hanya mengkritik, tetapi juga terjun langsung untuk membawakan solusi. Ia mengajak warga dari berbagai kalangan mulai dari ibu rumah tangga, pemuda, hingga tokoh adat untuk ikut serta dalam kegiatan pengelolaan sampah.
Namun, Luna tidak hanya bergerak sendiri. Ia menggandeng Jegeg Bagus Jembrana dan kelompok masyarakat untuk bersama-sama membentuk sistem yang berkelanjutan. Salah satu kunci keberhasilan gerakan ini adalah keterlibatan aktif dari warga, yang akan merasakan langsung manfaatnya.
Program “Sampah di Desa, Tuntas di Desa” pertama kali dilaksanakan di Desa Belimbingsari, sebuah desa di Kabupaten Jembrana, yang terkenal akan keberagamannya dan semangat gotong royong masyarakatnya. Setelah menunjukkan hasil positif, program ini kemudian mulai direplikasi di desa lain, salah satunya di Desa Pangkung Tanah.
Wilayah-wilayah ini dipilih karena karakter masyarakatnya yang masih kuat dalam menjunjung nilai kebersamaan, yang menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan gerakan lingkungan berbasis komunitas. Dengan lokasi yang tidak terlalu padat penduduk, program ini justru membuktikan bahwa desa bisa menjadi contoh pengelolaan sampah yang progresif dan mandiri.
Berawal dari inisiatif kecil berupa penyuluhan dan diskusi kelompok bersama warga. Dalam waktu yang relatif singkat, program ini berkembang dan mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Hingga saat ini, kegiatan pengelolaan sampah telah menjadi bagian dari rutinitas warga dan terus akan diperluas cakupannya.
Momentum keberlanjutan menjadi sangat penting. Program ini tidak hanya aksi sesaat, tetapi telah masuk ke dalam budaya dan kebiasaan hidup masyarakat desa. Ada beberapa alasan mengapa program ini begitu penting bagi masa depan desa dan masyarakatnya. Seperti mencegah pencemaran lingkungan, menjaga kesehatan masyarakat, meningkatkan kesadaran masyarakat, mendukung ekonomi kreatif lokal dan mengurangi beban pemerintah.
Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan mencemari tanah, air, dan udara. Sehingga dapat menjadi sarang penyakit seperti demam berdarah dan diare. Edukasi tentang sampah mampu mengubah pola pikir warga terhadap lingkungan. Sampah plastik juga dapat diubah menjadi kerajinan tangan seperti tas, dompet, atau hiasan, yang bisa dijual untuk menambah pendapatan. Jika desa mampu mandiri dalam mengelola sampah, maka biaya operasional untuk pengangkutan dan pembuangan bisa diminimalisir.
Pelaksanaan program ini dimulai dari edukasi. Luna dan tim relawannya mengunjungi warga untuk menjelaskan pentingnya memilah sampah. Luna membawa contoh produk daur ulang dan memperagakan proses bagaimana cara pengolahan limbah organik menjadi cairan serbaguna yang bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau membersihkan kamar mandi. Program ini juga memanfaatkan media sosial dan video dokumenter untuk menyebarkan semangat perubahan, dan menginspirasi desa-desa lain agar berani memulai menuntaskan sampah dari lingkungannya sendiri.
Program “Sampah di Desa, Tuntas di Desa” bukan sekadar gerakan pengelolaan limbah, melainkan bentuk nyata dari cinta terhadap tanah kelahiran. Inisiatif yang dimulai oleh seorang Jegeg Jembrana dari Desa Belimbingsari telah membuktikan bahwa langkah kecil bisa berdampak besar. Ketika warga desa diberi ruang untuk berkreasi dan bersatu, masalah besar seperti sampah pun bisa diatasi dengan cara yang ramah, mandiri, dan berkelanjutan. Luna telah membuktikan satu hal penting bahwa perubahan tidak harus menunggu datang dari luar. Perubahan bisa tumbuh dari desa, oleh desa, dan untuk desa itu sendiri. “When change starts from where we stand, it doesn’t need to wait. That is the spirit of Sampah Di Desa Tuntas Di Desa. From villages, for better future, for Jembrana”pungkasnya.
*Penulis: Komang Abei Putra Dharma (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Jembrana).