Dekranasda Dorong Wastra Bali Lokal Naik Kelas

  • 15 Agt 2026 08:20 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Wastra Bali didorong tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga kekuatan ekonomi kreatif yang mampu membuka pasar bagi desainer, perajin, serta pelaku IKM dan UMKM lokal. Pesan itu mengemuka dalam Dekranasda Bali Fashion Road Show bertema “Wastra Hitakara” di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Lumintang, Denpasar, Rabu 12 Agustus 2026.

Kegiatan yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali tersebut menjadi ruang promosi bagi karya desainer dan produk industri kecil dan menengah (IKM) Bali. Acara ini disambut Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara yang menyambut kedatangan Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Koster.

Program yang diinisiasi Ny. Putri Koster tersebut merupakan pengembangan dari Dekranasda Bali Fashion Week (DBFW) dan Dekranasda Bali Fashion Day (DBFD). Ketiganya dirancang sebagai rangkaian promosi wastra Bali yang dilakukan secara berkelanjutan.

Ny. Putri Koster mengatakan Fashion Day diarahkan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kain tenun tradisional Bali, Fashion Week menjadi ruang ekspresi bagi berbagai kalangan, sedangkan Fashion Road Show membawa karya desainer dan produk IKM Bali lebih dekat kepada masyarakat.

“Jika sesuatu dilakukan secara kontinu dan konsisten, barulah kita mendapatkan hasil. Wastra Bali tidak hanya memberikan keindahan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujar Ny. Putri Koster.

Menurut Ny. Putri Koster, pengembangan fesyen berbasis wastra dapat menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif secara lebih luas. Ketika karya seorang desainer berkembang, manfaat ekonominya turut dirasakan penenun, penjahit, koreografer, pemusik, hingga model lokal.

Peragaan busana dalam kegiatan tersebut juga dipadukan dengan musik karya seniman Bali serta busana tradisional dari berbagai daerah. Konsep itu sekaligus menjadi upaya menjaga kekayaan adat dan budaya Bali.

Meski sejumlah desainer Bali telah mendapat kesempatan tampil di panggung internasional, Ny. Putri Koster menegaskan bahwa penguatan pasar lokal tetap menjadi prioritas. Masyarakat Bali dan Indonesia, kata dia, perlu terlebih dahulu mengenal, mencintai, dan menggunakan karya desainer serta produk IKM daerah sendiri.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara mengapresiasi dipilihnya Denpasar sebagai salah satu lokasi Fashion Road Show. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum mempertemukan kreativitas desainer dengan masyarakat sekaligus memperkuat posisi IKM dan UMKM lokal.

“Atas nama Pemerintah Kota Denpasar dan Dekranasda Kota Denpasar, saya mengucapkan selamat datang di Dharma Negara Alaya. Gedung ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang kreativitas dan tempat bersemayamnya taksu anak-anak muda serta pelaku seni kreatif Kota Denpasar,” ujar Antari Jaya Negara.

Ia juga mengapresiasi para desainer dan perajin yang mampu mengolah kekuatan tradisi menjadi busana modern tanpa kehilangan identitas Bali.

Antari menegaskan, wastra Bali bukan sekadar kain, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya yang mengandung nilai, dedikasi, serta kehidupan para perajin. Karena itu, pelestarian wastra tidak cukup dilakukan melalui peragaan busana.

Penggunaan kain tradisional dalam kehidupan sehari-hari dinilai menjadi bentuk nyata untuk menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus mendukung ekonomi para perajin. “Mencintai wastra Bali adalah cara paling nyata kita menjaga warisan leluhur. Ketika kita memakai kain tradisional Bali, kita tidak hanya berbusana, tetapi juga sedang menghidupkan dapur para perajin lokal dan menjaga nyala kebudayaan kita tetap bersinar,” kata Antari.

Ia mengajak masyarakat bangga menggunakan kain lokal dan membeli produk IKM serta UMKM Bali sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan ekonomi kreatif daerah. Melalui Fashion Road Show “Wastra Hitakara”, Dekranasda diharapkan tidak hanya menghadirkan karya di atas panggung, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para pelaku kreatif yang terlibat di balik setiap produk.

Mari kita bangga memakai kain lokal, bangga membeli produk IKM/UMKM kita sendiri, dan menjadikannya bagian dari gaya hidup sehari-hari,” ajak Antari.

Ia berharap kolaborasi antarpelaku kreatif dapat terus diperkuat sehingga wastra Bali tetap hidup, berkembang, dan mampu menjadi bagian dari industri kreatif yang memberikan nilai tambah serta kesejahteraan bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....