Daya Saing Produk Kulit Lokal di Tengah Gempuran Produk Impor
- 16 Apr 2026 14:03 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Pelaku usaha produk kulit di Bali menilai produk lokal tetap mampu bersaing di tengah gempuran produk impor, khususnya dari luar negeri yang dijual dengan harga lebih murah. Perbedaan kualitas bahan menjadi faktor utama yang menentukan daya tahan produk.
Pemilik Toko Serba Jadi, Bara, kepada RRI Denpasar mengatakan produk yang ia jual menggunakan bahan kulit asli seperti kulit sapi dan kulit kerbau yang dikenal lebih kuat dan tahan lama dibandingkan bahan sintetis. "Kalau dibandingkan dengan sintetis, perbandingannya bisa satu tahun dengan tiga bulan. Jadi kualitasnya jelas lebih awet yang kulit asli,” ujar Bara.
Bara menjelaskan, bahan sintetis yang kerap disebut sebagai kulit sebenarnya merupakan bahan berbasis plastik yang memiliki daya tahan lebih rendah. Perbedaan ini dinilai belum banyak dipahami masyarakat, sehingga memengaruhi pilihan konsumen yang cenderung mempertimbangkan harga dibandingkan kualitas.
Selain itu, maraknya produk impor yang mengklaim berbahan kulit juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha lokal. Produk tersebut umumnya dijual dengan harga lebih murah, tetapi tidak memiliki kualitas yang sebanding dengan kulit asli.
“Tantangannya produk-produk dari luar, mereka bilang kulit tapi sebenarnya bukan. Itu yang jadi persaingan,” ujar Bara.
Meski menghadapi persaingan tersebut, Bara menilai produk kulit lokal tetap mampu bersaing, terutama dari segi kualitas dan ketahanan. Produk berbahan kulit asli bahkan lebih diminati oleh wisatawan mancanegara yang dinilai lebih memahami nilai kualitas.
Bara berharap masyarakat Indonesia dapat lebih mencintai dan menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap industri dalam negeri. Persaingan dengan produk impor pun diharapkan dapat menjadi motivasi bagi pelaku usaha untuk terus meningkatkan kualitas produk.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....