Produk Berbahan Sampah Dapat di-Up dengan Packaging

  • 18 Feb 2026 14:26 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID., Denpasar - Dr. Ni Putu Laras Purnamasari, S.Sn.,M.A. mengatakan dari barang yang nilainya tidak tinggi, tetapi ketika packagingnya bagus pastinya akan mengup untuk harga. Branding adalah salah satu identitas visual kita. Untuk produk yang bagus dan menambah nilai jual yang bagus penting adanya identitas visual.

Salah satu identitas visual yang bisa kita ciptakan adalah branding dari kemasannya.

“Jadi kita melihat produk, entah itu produk kita sendiri ataupun lawan jenis pun pasti kita akan lihat dari packagingnya atau tampilannya dulu. Dari segi tampilannya itu masuk ke dalam finishingnya. Tetapi ketika kita menciptakan suatu produk tentu penting rasanya kita memikirkan terkait packagingnya agar ketika dikemas menjadi lebih berkelas lagi”, tutur Bidang Ekonomi Kreatif DPD HIPPI Bali ini.

Saya punya cerita terkait pengembangan produk kami. Jadi saya sebenarnya lebih ke akademisi.

Di kampus kebetulan saya sebagai pegempu program studi seni rupa. Sejak covid kami konsen mengolah limbah sampah.

Ini Upaya kami untuk melaksanakan implementasi Pergub No.57 terkait pengolahan limbah sampah plastik. Kita berupaya untuk menciptakan sampah plastik menjadi suatu produk yang bernilai, tambah Dr. Laras dalam Siaran Teras UMKM di Pro 4 RRI Denpasar beberapa waktu lalu.

Lebih jauh Dr.Laras menyampaikan pada waktu itu memang kita tidak memikirkan terkait dengan nilai jual, mau kita jual menjadi produk souvenir dan sebagainya. Kita hanya mencoba mengupayakan melestarikan alam dari pengolahan itu.

Pada waktu itu kita ciptakan menjadi barong plastik. Jadi barong itu full semuanya dari plastik. Barong ini hampir menghabiskan 1 ton sampah plastik kresek.

"Dari situ banyak kemudian lembaga yang melirik dan kemudian mengajak kami berkolaborasi menciptakan suatu produk souvenir, seperti kipas, dompet serta produk lainnya yang memiliki nilai ekonomis. Akhirnya kami mengajak anak-anak karena kami memiliki mata kuliah kewirausahaan. Kalau hanya teori saja, kami pikir hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan," ujarnya.

Apalagi anak-anak generasi sekarang lebih banyak ke gadget. Anak-anak ini kemudian diajak untuk menciptakan produk yang bisa mereka jual sehingga mereka bisa mendapatkan income. Jadi mereka bisa menghargai apa yang mereka dapatkan.

Pada akhirnya kami memiliki ruang kreasi namanya ruang undagi. Di sini kami menciptakan produk-produk dari pengolahan sampah plastik ataupun produk batik.

Dari situ anak-anak belajar berwirausaha mulai dari menciptakan, menjual, menghasilkan dan mengolah lagi untuk kita bisa beroperasional di dalamnya, lanjutnya. Ini cerita dari suatu barang yang memang menjadi masalah bagi banyak orang, di ruang plastik kami bisa diolah menjadi produk lain.

"Kita jangan pikirkan dulu nilai ekonominya. Yuk kita ciptakan menjadi produk yang lebih bermanfaat dan berguna lagi," tutup Dr. Laras.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....