Cara Jitu Produk Lokal Menjadi Premium
- 18 Feb 2026 09:01 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar : Jika berbicara mengenai produk premium yang pertama kali terbersit dalam pikiran kita adalah pasti bahan yang digunakan sangat berkualitas sehingga harga produknya mahal. Namun ini tidaklah selalu benar.
Terkadang produk dengan kualitas premium lahir dari sesuatu yang tidak pernah kita sangka, seperti contohnya sampah. Hal ini dibenarkan oleh Bidang Perdagangan, perindustrian dan Umkm DPD HIPPI Bali, Ir.Hj. Nimmi Gulam, CSEP ketika menjadi narasumber dalam Siaran Teras UMKM, Senin 26 Januari 2026.
Hj. Nimmi menyampaikan UMKM lokal ini harus kita fokuskan, tetapi bukan lagi untuk kalangan tersendiri. Kalau berbicara mengenai premium, pasti imagenya, wah berkelas dan mahal. Padahal premium itu tidak hanya mengenai harga, tetapi juga story dan value.
“Jadi di sini ada ceritanya sehingga membuat sebuah produk ini berbeda dan valuenya juga pasti berbeda. Produk yang premium ini tidak selamanya menunjukkan mahal. Selain kualitas, rasa, branding dan pergerakan memasarkannya. Kemudian keterlibatan sinerginya bekerja sama dengan siapa, misalnya dengan influencer untuk mengembangkan digitalisasi”, tambah Hj. Nimmi.
Intinya untuk bisa menjadi produk yang premium, pertama dari segi kualitas, tanpa meninggalkan kualitas sejatinya, tetapi membuat diversifikasi sehingga tastenya agak lain dan di luar itu juga dalam proses packaging. Dia sudah siap diterima di pangsa luar. Jadi premium itu jatuhnya ke peckaging. Selain tentunya kualitas dan price,tutur Hj. Nimmi.
Pada siaran yang sama Bidang Ekonomi Kreatif DPD HIPPI Bali Dr. Ni Putu Laras Purnamasari, S.Sn.,M.A. juga mengatakan kalau untuk produk lokal ada cerita di dalamnya. Contohnya ketika kami menciptakan suatu produk , khususnya di batik ada cerita tentang pengembangan dan motifnya.
Apa yang ingin kami tawarkan baru kemudian terkait dengan packagingnya agar berkualitas lagi bisa menambah nilai jualnya. Jadi lebih premium kelihatannya.
Contoh lain lagi kami mengolah sampah plastik menjadi produk souvenir yang nilainya 0 rupiah. Jadi sampah plastik itu kan nilainya 0 dari sampah, kita meliriknya saja tidak mau.
Tetapi ketika ada cerita di dalamnya, paling tidak berupaya untuk menanggulangi suatu masalah dan kemudian menciptakan produk baru yang lebih menarik itu menambah nilai valuenya lagi untuk produk itu ditambah lagi kemasannya, finishingnya jadi lebih premium terlihat. Jadi tidak kelihatan ini sampah, tetapi terlihat sebagai produk yang berkualitas, produk souvenir yang mahal, tutup Dr.Laras.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....