Baru di Pasar Modal? Kenali Istilah Saham Gorengan

  • 06 Okt 2025 17:13 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Istilah saham gorengan telah lama dikenal di kalangan investor pasar modal Indonesia. Meski terdengar menarik dan menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat, saham jenis ini sering kali menjerumuskan investor yang tergoda oleh kenaikan harga yang luar biasa.

Pada dasarnya, saham gorengan adalah saham yang harga pasarnya dimanipulasi oleh pihak tertentu, seperti bandar atau kelompok pelaku pasar bermodal besar, untuk menciptakan ilusi prospek cerah dan menarik perhatian investor ritel. Manipulasi ini seringkali tidak didasari oleh kondisi fundamental perusahaan yang kuat, melainkan permainan psikologis pasar semata.

Dalam buku Pasar Modal di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab, saham gorengan biasanya muncul pada emiten kecil dengan kapitalisasi pasar rendah yang mudah digerakkan harganya. Bandar memanfaatkan likuiditas rendah dan jumlah investor terbatas untuk mengatur naik-turunnya harga saham dengan pola yang terencana. Lonjakan harga yang tidak wajar sering terjadi tanpa adanya informasi publik atau laporan keuangan yang mendukung.

Setelah harga naik drastis, pelaku manipulasi akan menjual sahamnya dan meninggalkan investor ritel dalam posisi rugi ketika harga tiba-tiba anjlok. Ciri utama saham gorengan dapat dikenali dari beberapa aspek.

Pertama, likuiditas rendah sebelum terjadi lonjakan mencurigakan. Kedua, kenaikan harga signifikan tanpa alasan fundamental, misalnya tanpa ada kabar ekspansi bisnis atau peningkatan laba.

Ketiga, volatilitas tinggi, di mana harga bisa berubah drastis hanya dalam hitungan jam. Saham seperti ini juga sering masuk ke dalam daftar Unusual Market Activity (UMA) oleh Bursa Efek Indonesia, yaitu daftar pengawasan terhadap saham yang menunjukkan pergerakan harga ekstrem tanpa penjelasan rasional.

Saham gorengan biasanya memiliki kapitalisasi pasar kecil dan termasuk kategori saham lapis dua atau tiga. Namun, nilai transaksi hariannya bisa sangat tinggi, bahkan menyaingi saham unggulan (blue chip).

Fenomena ini menunjukkan adanya pergerakan yang tidak alami di pasar. Selain itu, pola bid dan offer yang tidak wajar juga menjadi indikator penting. Dalam saham gorengan, antrian beli (bid) dan jual (offer) sering kali dibuat tipis atau tidak merata agar harga dapat dikerek naik dengan mudah.

Akibatnya, investor yang tidak jeli bisa terjebak membeli di harga puncak, sementara pelaku manipulasi telah melepas sahamnya. Risiko investasi pada saham gorengan sangat besar.

Harga yang naik secara tidak wajar hampir pasti akan jatuh dengan cepat ketika aksi manipulasi berhenti. Banyak investor ritel yang mengalami kerugian besar karena terlambat menyadari bahwa harga telah “dinaikkan” secara buatan.

Selain itu, saham gorengan juga berisiko disuspensi oleh otoritas bursa, sehingga investor tidak bisa menjual sahamnya untuk sementara waktu. Kasus-kasus seperti skandal Jiwasraya dan Asabri menjadi bukti nyata bagaimana manipulasi saham gorengan dapat menimbulkan kerugian masif bagi masyarakat dan institusi keuangan.

Untuk menghindari jebakan saham gorengan, investor perlu menerapkan beberapa langkah bijak. Pertama, lakukan analisis fundamental sebelum membeli saham.

Pastikan perusahaan memiliki kinerja keuangan sehat, laba stabil, dan prospek bisnis yang jelas. Kedua, periksa likuiditas saham dan hindari saham dengan volume transaksi yang rendah.

Ketiga, waspadai kenaikan harga tidak wajar tanpa berita pendukung. Keempat, diversifikasikan portofolio agar kerugian dari satu saham tidak memengaruhi keseluruhan investasi.

Terakhir, gunakan sumber informasi terpercaya, seperti laporan resmi Bursa Efek Indonesia, riset analis berlisensi, atau platform investasi tepercaya. Menurut Husnan (2015) dalam Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, strategi terbaik bagi investor adalah mengandalkan informasi yang valid dan menjaga prinsip rasionalitas dalam berinvestasi.

Saham gorengan mungkin menjanjikan keuntungan cepat, namun risikonya jauh lebih besar dibanding potensi keuntungannya. Investor yang cerdas akan lebih memilih saham dengan fundamental kuat dan prospek jangka panjang, daripada terjebak dalam permainan jangka pendek yang penuh ketidakpastian.

Literasi keuangan dan disiplin dalam analisis menjadi kunci utama untuk melindungi diri dari kerugian yang tidak perlu.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....