Apa itu Lipstick Effect?

  • 28 Mei 2026 13:37 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID - Di kala situasi finansial sedang lesu atau isi dompet mulai menipis, memangkas anggaran untuk pos-pos belanja yang besar adalah langkah pertama yang paling rasional. Menurut teori ekonomi dasar, merosotnya daya beli masyarakat otomatis akan memukul seluruh sektor usaha tanpa terkecuali.

Menariknya, dunia ekonomi mengenal sebuah anomali unik ketika barang-barang pelengkap yang murah dan estetis justru makin diburu konsumen di kala masa-masa sulit melanda. Perilaku pasar yang tidak biasa ini populer dengan sebutan lipstick effect.

Konsep ini menggambarkan dinamika psikologis masyarakat yang memilih menunda membeli aset-aset mahal seperti kendaraan baru, liburan mewah, atau perhiasan berharga tinggi dan mengalihkan anggarannya pada barang pemuas kecil yang terjangkau agar tetap bisa merasa senang. Istilah ini lahir dari fakta sejarah yang menunjukkan bahwa angka penjualan produk kecantikan seperti lipstik justru meroket tajam ketika terjadi krisis ekonomi global dan Depresi Besar.

Kecenderungan masyarakat dalam berburu hiburan murah ini juga diperkuat oleh analisis para pakar. Juliet Schor, seorang profesor sosiologi dan ekonomi dari Boston College, dalam bukunya yang bertajuk The Overspent American memvalidasi fenomena tersebut dari sisi psikologis dengan menjelaskan bahwa masyarakat sengaja membeli produk kosmetik atau pernak-pernik kecil yang murah lantaran pembelian tersebut memberikan kepuasan instan dan kepuasan visual tersendiri bagi pemiliknya, tanpa harus menguras isi dompet terlalu dalam.

Seiring berjalannya waktu, cakupan lipstick effect kini tidak lagi melulu soal lipstik atau riasan wajah saja. Tren ini sudah merambah ke berbagai lini gaya hidup modern yang ramah kantong, seperti segelas kopi kekinian, produk perawatan tubuh, hingga aksesori handmade yang trendi seperti gantungan ponsel dan perhiasan manik-manik.

Berbagai pernak-pernik tersebut menjadi alternatif "kemewahan mini" yang dipilih konsumen untuk menyenangkan diri sendiri tanpa perlu merasa bersalah karena boros. Pada kesimpulannya, fenomena lipstick effect memperlihatkan bahwa belanja tidak melulu tentang memenuhi kebutuhan pokok, tapi juga tentang menjaga kesehatan mental.

Membeli barang-barang kecil yang menarik secara visual menjadi cara ampuh bagi seseorang untuk meredakan stres sekaligus mempertahankan rasa bahagia di tengah himpitan ekonomi. Bagi para pelaku bisnis, tren ini menjadi peluang emas untuk merancang produk yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga mampu memberikan ikatan emosional yang kuat bagi pembelinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....