Ekonomi Indonesia di Tengah Ancaman Perang Dagang Global
- 16 Apr 2025 05:56 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Lanskap keuangan dan kemitraan global tengah mengalami pergeseran signifikan. Ketidakpastian meningkat seiring kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap sejumlah negara mitra dagangnya.
Kebijakan tersebut memicu sentimen negatif di pasar global dan mendorong kekhawatiran akan terjadinya perang dagang skala besar. Pengamat ekonomi dan Akademisi Undiknas Denpasar Prof. Ida Bagus Raka Suardana kepada RRI mengatakan, kebijakan tarif tambahan yang diterapkan Amerika Serikat dapat memberikan dampak tidak langsung terhadap perekonomian Indonesia.
“Indonesia memang bukan target langsung dari tarif tersebut, tetapi sebagai bagian dari ekosistem perdagangan global, kita akan merasakan imbasnya,” ujarnya. Ia menekankan bahwa ketegangan dagang global akan memengaruhi permintaan ekspor Indonesia, terutama ke negara-negara mitra utama yang terdampak langsung oleh kebijakan tersebut. Selain itu, aliran modal asing berpotensi terganggu akibat meningkatnya ketidakpastian pasar.
Lebih lanjut, Prof. Raka menjelaskan bahwa pemerintah perlu segera mengambil langkah antisipatif untuk meredam dampak yang mungkin timbul. “Kita harus memperkuat pasar domestik, mendorong diversifikasi ekspor, dan mempercepat pembangunan industri substitusi impor,” jelasnya.
Ia juga menyarankan agar Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi serta memperkuat kerja sama regional sebagai bentuk perlindungan terhadap tekanan eksternal. Terkait target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok sebesar 8 persen, Prof. Raka memberikan pandangan yang realistis.
“Dengan kondisi global yang penuh tekanan seperti sekarang, target 8 persen sebaiknya dievaluasi ulang,” katanya. Ia menambahkan bahwa pencapaian angka tersebut membutuhkan kondisi global yang kondusif serta reformasi struktural yang agresif di dalam negeri.
Prof. Raka mengingatkan bahwa meski tantangan global meningkat, Indonesia tetap memiliki potensi besar jika mampu menjaga stabilitas, memperkuat daya saing, dan memanfaatkan momentum reformasi.
“Yang penting adalah ketahanan ekonomi dalam negeri harus terus dibangun, agar kita tidak mudah goyah di tengah badai global,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....