Mengapa Bebayuhan Oton Tidak Bisa Disamakan untuk Semua Orang?
- 06 Okt 2026 11:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Pelaksanaan bebayuhan oton kini semakin marak diselenggarakan secara massal di berbagai wilayah Bali. Meskipun memberikan kemudahan secara organisatoris, tatanan teologi Hindu menegaskan bahwa bebayuhan oton sejatinya merupakan ritual yang sangat spesifik dan personal sehingga tidak bisa disamaratakan atau dianggap sama bagi setiap orang.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 29 September 2026, Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. Nyoman Arya, S.Ag., M.P.D.H., menjelaskan bahwa setiap individu membawa energi serta karakteristik kelahiran yang unik sejak lahir.
"Di dalam lontar Tenung Waraspati Kalpa, setiap kelahiran orang itu memiliki sistem bebayuhan yang berbeda, sistem pewacakan yang berbeda, hingga sarana ruwatan dan dewa yang disembah pun tidak sama. Tergantung pada kondisi dan tujuan kenapa ia harus membayuh," ujarnya.
Nyoman Arya memaparkan bahwa perbedaan mendasar bebayuhan oton terletak pada hari kelahiran seseorang. Masing-masing hari dipengaruhi oleh manifestasi Dewa serta membutuhkan sarana penebusan yang spesifik:
- Redite (Minggu): Dinaungi oleh Dewa Indra, menggunakan penebusan ayam putih dan sesayut Kesumuh Jati.
- Soma (Senin): Dinaungi oleh Dewa Wisnu, menggunakan penebusan ayam selam (hitam) dan sesayut Sida Rangga.
- Anggara (Selasa): Dinaungi oleh Dewa Rudra, menggunakan penebusan ayam bieng kuning dan sesayut Wira Kesumuh.
- Buda (Rabu): Dinaungi oleh Dewi Uma, menggunakan penebusan ayam putih siungan dan sesayut Purna Suka.
- Wraspati (Kamis): Dinaungi oleh Dewa Guru, menggunakan penebusan ayam wangkas dan sesayut Kesumuh Gandawati.
- Sukra (Jumat): Dinaungi oleh Dewi Sri, menggunakan penebusan ayam kelau (abu-abu) dan sesayut Wilet Jaya Rangga.
- Saniscara (Sabtu): Dinaungi oleh Dewi Durga, menggunakan penebusan ayam biing brahmo (bulu merah kaki kuning) dan sesayut Kesumuh Yudha.
Dengan adanya penjelas sastra tersebut, Nyoman Arya mengimbau para penyelenggara bebayuhan oton massal untuk melakukan proses identifikasi dan pendataan peserta secara cermat sebelum hari-H pelaksanaan.
"Kalau peserta bebayuhan massal ada 150 atau 300 orang, tidak bisa semua disamakan sesayutnya. Harus diidentifikasi dulu berapa yang lahir di hari Redite, berapa yang Soma. Yang lahir di Redite panggil untuk mengambil upakara Redite, begitu pula hari lainnya. Komando dan pemujaannya pun menghadirkan dewanya masing-masing," ucapnya.
Ia mengingatkan bahwa esensi dari bebayuhan adalah memberikan hak spiritual (hak banten tataban) sesuai weton kelahiran peserta. Dengan menjalankan ritual sesuai petunjuk sastra lontar, pelaksanaan bebayuhan oton tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial belaka, melainkan benar-benar mampu menyelaraskan energi internal (bayu) serta mendatangkan kedamaian (dayuh) bagi kehidupan umat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....