Tradisi Bali di tengah Perubahan Zaman: Berkembang tanpa Mengubah Dasarnya

  • 06 Okt 2026 11:13 WIB
  •  Denpasar

RI.CO.ID, Denpasar — Pelaksanaan tradisi dan ritual keagamaan Hindu di Bali terus mengalami penyesuaian di tengah arus modernisasi. Banyaknya pelaksanaan ritual secara massal seperti bebayuhan oton, melukat, hingga ruwatan Sapuh Leger menjadi bukti bahwa tradisi mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Meski demikian, perkembangan metode pelaksanaan ini ditegaskan tidak boleh mengaburkan atau merusak tatanan dasar (tattwa) yang bersumber dari sastra agama.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 29 September 2026, Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. Nyoman Arya, S.Ag., M.P.D.H., menekankan bahwa pembaharuan dalam cara pelaksanaan ritual merupakan bentuk perkembangan yang wajar, selama tetap berpegang teguh pada rujukan lontar.

Nyoman Arya menjelaskan bahwa fleksibilitas dalam ranah seremonial (acara) sangat dimungkinkan untuk merespons dinamika sosial masyarakat modern. Namun, prinsip dasar ritual seperti penentuan sarana upakara berdasarkan hari kelahiran (pawortonan) wajib dipertahankan.

"Kita harus mengalami perkembangan, bukan merubah. Apa yang mungkin dulu belum ditemukan dan sekarang baru ditemukan dari kajian sastra, ayolah kita terapkan. Jangan setiap kali ada penyesuaian berdasarkan lontar, orang berpikiran kita ingin merubah tradisi. Bukan begitu," ucapnya.

Ia memberikan contoh pada pelaksanaan bebayuhan oton massal. Secara organisatoris, ritual dapat digelar bersama-sama demi efisiensi, tetapi pengelompokan peserta berdasarkan hari kelahiran (Redite hingga Saniscara) beserta sarana penebusannya (ayam penebus dan sesayut) tetap harus disiapkan secara personal sesuai petunjuk lontar Tenung Waraspati Kalpa.

Perkembangan tradisi di era modern menuntut para praktisi dan penyuluh agama untuk memberikan edukasi yang rasional dan teruji kepada masyarakat, sehingga umat tidak sekadar menjalankan ritual atas dasar kebiasaan turun-temurun semata.

"Makanya kami setiap berbicara permasalahan agama, rujukannya itu jelas dari sumber lontar dan bisa diuji. Lontar memang tidak bisa berbicara, maka kami sebagai perantara bertugas untuk mengkaji dan menyampaikannya kepada umat," ujarnya.

Beberapa poin penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi Bali di era modern meliputi :

  • Menerapkan petunjuk Lontar Waraspati Kalpa, Tenung Rari, dan Jyotisa dalam mengidentifikasi kebutuhan ritual setiap individu tanpa mengabaikan kepraktisan zaman.
  • Mengikis stigma "hal biasa secara turun-temurun" (nak mula keto) dengan memberikan pemahaman filosofis mendalam di balik setiap tahapan simbolis upakara.
  • Memastikan pelaksanaan ritual massal tetap menghormati hak-hak spiritual setiap peserta sesuai weton kelahirannya.

Dengan memadukan adaptasi metode dan keteguhan pada esensi sastra, tradisi Hindu Bali dapat terus tumbuh secara relevan, kontekstual, dan berdaya guna bagi pembentukan karakter masyarakat di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....