Transformasi Seni Arca Klasik Nusantara

  • 14 Sep 2026 08:47 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID., Denpasar - Dilansir dari berbagai sumber, pengamatan secara diakronis terhadap peninggalan purbakala menunjukkan adanya fenomena unik dalam evolusi seni arca pada masa klasik di Indonesia. Pada fase awal, pembuatan arca di Nusantara memang mendapat pengaruh yang sangat kuat dari tradisi kesenian India. Namun seiring berjalannya waktu, transformasi seni arca klasik nusantara yang didominasi kebudayaan asing tersebut perlahan semakin berkurang hingga memasuki zaman kerajaan di Jawa Timur dan Bali.

Pada periode inilah karakteristik arca tipe Polinesia seolah hidup kembali, di mana seni asli Indonesia kembali menampakkan jati dirinya dalam wujud tatarias figur lokal yang mengenakan pakaian bergaya India.Perkembangan lebih lanjut pada masa klasik ini juga membawa perubahan signifikan pada motif hiasan atau ornamentasi artefak. Ragam hias mengalami metamorfosis bentuk yang dinamis, seperti motif bulatan sederhana yang berevolusi menjadi motif patra kakul-kakulan atau menyerupai binatang siput. Selain itu, guratan garis-garis melengkung mulai digantikan oleh motif sulur-suluran yang dipahat secara lebih raya dan detail.

Berbagai perubahan estetik ini sengaja ditujukan demi mengutamakan pemuasan rasa keindahan semata, yang buktinya dapat diidentifikasi langsung pada ragam aksesori arca seperti hiasan mahkota, detail pakaian, hingga bentuk senjata.Selain pada arca, penerapan motif flora dan fauna baik yang bersifat sakral maupun sekuler juga diaplikasikan secara masif pada relief dan struktur bangunan suci kuno. Dari segi teknis arsitektur klasik, para ahli arkeologi membagi motif hiasan atau ornamen bangunan tersebut ke dalam tiga kategori utama. Ketiga jenis ornamen itu meliputi motif hiasan aktif atau konstruktif, motif hiasan pasif, serta motif hiasan teknis.

Pembagian ini didasarkan pada hubungan fungsional antara hiasan tersebut dengan kekuatan struktur utama dari bangunan tempatnya bernaung.Hiasan aktif atau konstruktif diartikan sebagai hiasan yang menyatu dan tidak dapat dipisahkan dari bangunan pokok karena berisiko merusak seluruh konstruksi fisik jika dihilangkan. Contoh nyata dari jenis ini adalah tiang-tiang penyangga, yang selain bernilai estetis, juga mengemban fungsi vital untuk menahan beban atap bangunan. Sementara itu, hiasan pasif merupakan jenis dekorasi yang posisinya lepas dari bangunan utama sehingga dapat dihilangkan tanpa memengaruhi kekuatan sasis konstruksi, contohnya adalah keberadaan menara-menara sudut atau hiasan simbar.

Di sisi lain, hiasan teknis hadir dengan fungsi ganda yang tidak hanya mempercantik visual, melainkan juga memiliki kegunaan struktural khusus, seperti batu penutup pada bagian langit-langit candi. Selain elemen lepas tersebut, dikenal pula fungsi relief dinding sebagai bagian integral yang tidak terpisahkan dari struktur candi. Relief ini sendiri terbagi menjadi dua kategori, yakni relief hiasan murni seperti figur roset atau apsara di Candi Prambanan, serta relief cerita keagamaan dan kalangwan berisi lukisan keindahan alam menyerupai peninggalan-peninggalan yang banyak ditemukan di situs purbakala Trowulan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....