Budaya Kerja Baru Jepang: Kantor Usir Karyawan yang Suka Lembur, Profit Makin Naik
- 30 Sep 2026 20:38 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar – Belakangan ini ramai di media sosial tentang penerapan budaya baru perusahaan Jepang. Budaya ini dianggap aneh. Kabarnya, mereka selalu meminta karyawannya menghentikan pekerjaan kalau masih terlihat lembur di kantor.
Dikutip dari unggahan instagram @aksoro.id, perusahaan tersebut melarang karyawannya untuk lembur walau sedetikpun. Namanya, perusahaan trading Itochu Corporation. Setiap hari, satpam dan HRD keliling kantor untuk meminta karyawan yang masih kerja agar segera menghentikan aktivitasnya di kantor.
Sebagai gantinya, bagi sebagian karyawan yang bersikeras untuk melakukan lembur karena mengejar deadline, mereka boleh datang lebih pagi di hari selanjutnya. Tidak hanya itu, bagi karyawan yang lembur dengan datang lebih awal dihari berikutnya akan mendapat kompensasi tambahan upah lembur di jam produktif. Sistem kerja ini dinamakan Asagata Kinmu (Morning-Focused Work System).
Dengan menerapkan sistem ini, ada keunggulan yang secara langsung dapat dirasakan :
Efisiensi Kerja : Otak lebih fresh, karyawan dapat berfikir jernih, sehingga kerja lebih cepat dan tepat.
Kesehatan Karyawan : sering lembur sampai malam dapat merusak kesehatan dan ini menjadi solusi.
Lebih Customer Oriented : Karyawan yang beristirahat cukup akan lebih siap melayani klien dengan baik.
Hasilnya sangat diluar dugaan. Alih-alih karyawan rugi, ternyata justru Profit yang dihasilkan per karyawan justru naik lebih dari 5 kali lipat. Retensi karyawan juga naik, sebab karyawan perempuan tidak resign setelah cuti melahirkan. Mereka merasa masih bisa bekerja sambilan diluar jam kerja.
Gara-gara kebijakan ini, tingkat fertilitas karyawan naik 2 kali lipat. Setelah berhasil dengan program Asagata Kinmu. Perusahaan bikin perubahan jam kerja inti. Dari 8 jam kerja menjadi 6 jam kerja.
Itochu Corporation bahkan jadi rujukan stewardship dan reformasi budaya kerja di Jepang. Dengan adanya budaya tersebut, mereka menujukkan bahwa membangun budaya kerja baru itu sesederhana mengubah aturan jam kerja. Mereka bisa tetap produktif, tetapi tim tetap bahagia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....