Semangat Puputan Badung, Sesuluh bagi Generasi Penerus Bali
- 21 Sep 2026 12:18 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Peringatan Puputan Badung menjadi sarana untuk mengenang semangat perjuangan para pendahulu dalam mempertahankan tanah kelahiran dan harga diri Bali.
- RRI Pro 4 Denpasar mengadakan program Obrolan Galang Kangin dengan menghadirkan Ajik Tibah dan Beli Kejoer untuk membahas makna Puputan Badung.
- Puputan Badung dipandang bukan hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat menerangi generasi saat ini dalam memahami pentingnya perjuangan mempertahankan tanah Bali.
RRI.CO.ID, Denpasar - Peringatan Puputan Badung menjadi momentum untuk mengenang semangat perjuangan para pendahulu dalam mempertahankan tanah kelahiran dan harga diri Bali. Hal tersebut dibahas dalam program siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar, Jumat, 18 September 2026, bersama Ajik Tibah dan Beli Kejoer yang mengangkat tema “Puputan Badung”.
Dalam perbincangan tersebut, Puputan Badung dimaknai tidak hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat menjadi penerang bagi generasi masa kini. “Bagaimana pendahulu kita berjuang mempertahankan tanah Bali,” ujar Tibah, menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam pembahasan tersebut.
Semangat puputan digambarkan sebagai sikap pantang menyerah dalam mempertahankan tanah kelahiran, kehormatan dan jati diri. “Kencang semangat puputan itu, yang tenang, yang tidak menyerah,” tambah Kejoer.
Tibah dan Kejoer juga mengaitkan semangat perjuangan dengan kecintaan terhadap tanah kelahiran yang perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya. “Cinta tanah palekadan,” ungkap Tibah, menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap daerah asal perlu diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata.
Menurut keduanya, perjuangan para pendahulu tidak dilakukan sendiri-sendiri, tetapi melalui persatuan rakyat dalam menghadapi ancaman terhadap wilayahnya. “Rakyat bersatu padu melawan orang-orang yang menjajahnya, tanpa komando, berjuang bersama,” ungkap Tibah.
Nilai perjuangan tersebut dinilai tetap relevan meskipun bentuk tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini telah berubah. Generasi masa kini tidak lagi menghadapi penjajahan dalam bentuk yang sama seperti masa lalu, tetapi perlu memiliki ketahanan dalam menghadapi pengaruh ekonomi, teknologi dan budaya dari luar.
Dalam obrolan tersebut, perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya luar disebut perlu disikapi secara bijaksana agar tidak menghilangkan jati diri masyarakat Bali. “Budaya luar, budaya teknologi dari luar, jangan diadopsi semua, mana yang cocok, ada filterisasi,” kata Kejoer, menjadi salah satu pesan bagi generasi muda.
Kemampuan menyaring pengaruh dari luar dinilai penting agar kemajuan zaman dapat berjalan berdampingan dengan nilai budaya lokal. Masyarakat diharapkan mampu mengambil hal-hal yang sesuai dengan kebutuhan tanpa meninggalkan karakter dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Semangat Puputan Badung juga dikaitkan dengan pentingnya menjaga pola pikir dan keberanian generasi penerus dalam menghadapi perubahan zaman. Menurut pembahasan tersebut, perubahan bentuk tantangan tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan semangat untuk menjaga wilayah, budaya dan identitasnya.
Peringatan Puputan Badung yang dikaitkan dengan tanggal 20 September menjadi kesempatan untuk kembali melihat sejarah sebagai sumber pembelajaran bagi kehidupan masa kini. “Anggon petitis, sesuluh satua ane malu,” atau menjadi cermin dan penerang dari perjuangan para pendahulu, menjadi pesan yang disampaikan dalam obrolan tersebut.
Para pendahulu telah memberikan teladan mengenai keberanian, persatuan dan kecintaan terhadap tanah kelahiran yang perlu diteruskan oleh generasi berikutnya. Nilai tersebut diharapkan tidak hanya dikenang dalam peringatan sejarah, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap budaya dan lingkungan sosial Bali.
Melalui pembahasan Puputan Badung, masyarakat diajak memahami bahwa kemerdekaan dan kehidupan yang dinikmati saat ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Karena itu, generasi masa kini memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai perjuangan tersebut dengan cara yang sesuai dengan tantangan dan kehidupan pada zamannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....