Bias Gender dalam Pola Asuh Anak Bisa Dimulai dari Rumah
- 16 Sep 2026 07:13 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Pola pengasuhan di dalam keluarga turut membentuk cara anak memahami peran laki-laki dan perempuan di lingkungan sosialnya. Kebiasaan yang terlihat sederhana, seperti menganggap anak laki-laki tidak perlu belajar memasak atau membersihkan rumah, sementara pekerjaan domestik identik dengan anak perempuan, dapat menjadi bagian dari konstruksi gender yang terbawa hingga dewasa.
Patajuh Patengen Pasikian Paiketan Krama Istri (PAKIS) Provinsi Bali, Gusti Ayu Agung Riesa Mahendradhani menjelaskan, penting untuk membedakan antara jenis kelamin dan gender. Jenis kelamin berkaitan dengan kondisi biologis laki-laki dan perempuan, sedangkan gender berkaitan dengan nilai dan konstruksi sosial mengenai sifat, peran, serta tanggung jawab yang dilekatkan masyarakat kepada laki-laki maupun perempuan. Konstruksi tersebut dapat berubah seiring perkembangan zaman dan lingkungan sosial.
“Sehingga kalau kita lihat sebenarnya sekarang sangat masif pola pengasuhan gender ini kan sudah mulai bisa kita lihat hampir setara.” Jelasnya saat diwawancara pada Senin (14/09).
Dikatakan, dalam masyarakat sebelumnya, perempuan lebih banyak ditempatkan pada ranah domestik karena berkaitan dengan peran biologis seperti melahirkan dan menyusui. Namun, perkembangan zaman membuat perempuan juga memiliki kontribusi besar dalam bidang ekonomi dan berbagai sektor kehidupan. Karena itu, diperlukan pola pengasuhan yang lebih seimbang agar pembagian peran tidak menjadi beban bagi salah satu pihak.
Nilai mengenai peran laki-laki dan perempuan pertama kali banyak diperoleh anak dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Anak tidak hanya belajar dari nasihat yang diberikan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Ketika anak melihat ayah selalu bekerja sementara ibu selalu memasak, membersihkan rumah dan melayani kebutuhan keluarga, gambaran tersebut dapat terserap sebagai sesuatu yang dianggap normal.
“Itu sudah sebenarnya kita kenal sebagai hidden curriculum. Jadi kurikulum tersembunyi yang sudah melabelkan bahwasannya laki-laki itu tinggal menerima apa yang dilakukan oleh Perempuan. tapi maka dari itu kita perlu bahwasannya hal yang paling dekat dengan anak-anak itu adalah orang tua. Sehingga orang tua itu adalah nilai atau pengetahuan pertama yang dimiliki oleh anak,"ucap Akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa ini.
Pada usia perkembangan, khususnya sekitar 8 hingga 12 tahun, anak sangat mudah menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam memberikan contoh pola pengasuhan yang tidak bias gender.
Anak laki-laki perlu diberi kesempatan belajar memasak, membersihkan rumah, merawat diri dan melakukan pekerjaan domestik, sebagaimana anak perempuan juga perlu diberi ruang untuk berani mengambil keputusan, memimpin dan mengembangkan kemampuan di luar pekerjaan domestik.
Bias gender juga dapat berdampak pada perkembangan emosional anak. Anak laki-laki yang terus-menerus mendapat pesan bahwa mereka tidak boleh menangis, tidak boleh lemah atau harus selalu kuat dapat mengalami pengekangan terhadap ekspresi emosinya.
Sebaliknya, anak perempuan yang terus dianggap lemah atau kurang mampu dapat tumbuh dengan batasan terhadap potensi dirinya. Karena itu, anak laki-laki perlu memahami bahwa merasa sedih, lelah dan membutuhkan bantuan bukanlah sesuatu yang membuat mereka lebih rendah, sementara anak perempuan juga perlu mendapatkan kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....