Jaman Kali, Mampukah Kita Tetap Berpegang pada Kebenaran?

  • 15 Sep 2026 09:53 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Program Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar membahas konsep 'Jaman Kali' dan tantangan kehidupan pada era tersebut bersama narasumber Ajik Tibah dan Beli Kejoer pada Senin 14 September 2026.
  • Program menekankan bahwa Jaman Kali bukan justifikasi untuk membenarkan perilaku keliru, melainkan pengingat bagi manusia untuk tetap dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.
  • Pendengar diajak memahami pentingnya berpegang pada kebenaran dan nilai-nilai kehidupan agar tidak mudah terbawa arus keadaan zaman.

RRI.CO.ID, Denpasar - Program siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar membahas tema “Jaman Kali” bersama Ajik Tibah dan Beli Kejoer, Senin 14 September 2026. Perbincangan tersebut mengajak pendengar memahami berbagai tantangan kehidupan pada zaman Kali serta pentingnya tetap berpegang pada kebenaran dan nilai-nilai kehidupan.

Dalam pembahasannya, Jaman Kali tidak dimaknai sebagai alasan untuk membenarkan berbagai perilaku yang keliru di tengah masyarakat. Justru, kondisi tersebut menjadi pengingat agar manusia tetap mampu membedakan sesuatu yang benar dan salah serta tidak mudah terbawa keadaan.

Ajik Tibah dan Beli Kejoer menyoroti bagaimana kekuatan atau “power” terkadang membuat seseorang lebih mudah didengar dibandingkan orang lain. Kondisi tersebut dapat menjadi persoalan ketika pendapat yang disampaikan tidak lagi didasarkan pada kebenaran dan kepentingan bersama.

“Yang punya power, yang punya sungguh orang, tuturnya orang,” ungkap Tibah, menjadi gambaran bahwa kekuatan dan pengaruh dapat memengaruhi cara seseorang menyampaikan maupun menerima suatu pendapat. Karena itu, masyarakat perlu tetap kritis dan tidak hanya mengikuti perkataan seseorang berdasarkan kedudukan atau pengaruhnya.

Pembahasan juga menyinggung pentingnya peran pemimpin dalam menghadapi berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat. Seorang pemimpin dinilai tidak boleh melupakan tanggung jawab dan kewajibannya untuk peduli terhadap kondisi masyarakat yang dipimpinnya.

“Sang Prabu, ida lali,” dimaknai sebagai pesan agar seorang pemimpin tidak lupa terhadap keadaan di sekitarnya. Pemimpin diharapkan mampu melihat persoalan secara bijaksana dan tidak bersikap acuh terhadap berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat.

Dalam menghadapi persoalan, seseorang juga diingatkan agar tidak terburu-buru ikut campur apabila belum memahami persoalan secara utuh. “Lebih baik ido diam,” menjadi salah satu pesan yang menekankan pentingnya kehati-hatian sebelum berbicara atau mengambil tindakan.

Menurut Kejoer, keberanian bukan berarti selalu harus ikut berbicara dalam setiap persoalan. "Sikap diam dan mengamati juga dapat menjadi pilihan ketika seseorang masih ragu atau belum memiliki pemahaman yang cukup terhadap suatu permasalahan", jelasnya.

Tema Jaman Kali kemudian dikaitkan dengan sikap manusia dalam menghadapi perubahan zaman yang terus berlangsung. Perubahan tersebut tidak seharusnya membuat manusia pasrah, tetapi menjadi tantangan untuk tetap menjaga nilai kebenaran dan menjalankan kehidupan secara bijaksana.

“Walaupun gak tahu yang jaman kali, yang kan caranya ngelawan jaman kali,” tambah Tibah, menjadi penegasan bahwa manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga sikap dan nilai kehidupan. Dengan demikian, keadaan zaman tidak dapat dijadikan pembenaran untuk meninggalkan prinsip yang diyakini benar.

Perbincangan juga mengangkat simbol swastika sebagai gambaran keseimbangan dalam kehidupan. Arah ke atas, ke bawah, ke samping kanan dan kiri dimaknai sebagai simbol kehidupan yang memiliki banyak arah, namun tetap membutuhkan keseimbangan.

“Dasar swastika,” menjadi salah satu bagian pembahasan yang mengingatkan bahwa kehidupan manusia memiliki berbagai sisi dan perubahan. Keseimbangan tersebut diperlukan agar manusia tidak hanya mengikuti keadaan, tetapi tetap memiliki pijakan dalam menjalani kehidupan.

Ajik Tibah dan Beli Kejoer juga menggambarkan perubahan zaman seperti sesuatu yang berlangsung secara perlahan namun dapat memberikan pengaruh besar. Karena itu, manusia perlu memiliki kewaspadaan dan keteguhan agar tidak mudah terbawa perubahan yang menjauhkan dari nilai kebaikan.

Pada akhirnya, pembahasan Jaman Kali mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menerima keadaan tetapi mampu menyikapinya dengan kesadaran. “Harus dilawan, jangan memberi pembenaran atas nama jaman kali,” ucap Kejoer yang menjadi pesan bahwa manusia tetap memiliki pilihan untuk menjaga kebenaran, kepedulian dan keseimbangan di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....