Diskusi Budaya Kawiya Bali–PWI Soroti Masa Depan PKB
- 22 Jun 2026 08:15 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Masa depan Pesta Kesenian Bali (PKB) dinilai tidak hanya bertumpu pada kemegahan pertunjukan seni, tetapi juga pada upaya menjaga memori budaya, memperkuat regenerasi seniman, serta membangun dialog berkelanjutan antara seniman senior dan generasi muda. Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya yang digelar Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Jumat 19 Juni 2026.
Diskusi yang diikuti wartawan budaya dari berbagai media ini menghadirkan akademisi Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum., dan Dr. I Kadek Suartaya, S.SKar., M.Si., dengan moderator Ida Ayu Frischa Mahayani.
Dalam paparannya, Prof. Arya Sugiartha menjelaskan bahwa PKB tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah Bali pasca tragedi kemanusiaan 1965–1966 yang berdampak besar terhadap kehidupan seniman di Bali. Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai upaya penyelamatan dan regenerasi seni tradisi.
Menurutnya, langkah awal dimulai dengan pembentukan Listibiya dan pendirian Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada 1967 sebagai upaya menjaga kesinambungan pendidikan dan pewarisan seni Bali. “PKB merupakan kelanjutan dari berbagai inisiatif sebelumnya, termasuk Merdangga Utsawa Gong Kebyar dan Pesta Seni di Werdi Budaya. Pada 1979, Gubernur Ida Bagus Mantra kemudian mengukuhkannya menjadi Pesta Kesenian Bali,” jelasnya.
Ia menambahkan, PKB awalnya berfungsi sebagai sarana penyelamatan seniman dan pelestarian tradisi, sebelum kemudian berkembang menjadi ekosistem kebudayaan yang lebih luas, mencakup ruang pertunjukan, edukasi, dokumentasi, hingga dialog budaya. Dalam konteks kekinian, ia menilai seniman senior tetap memiliki peran penting sebagai penjaga memori budaya sekaligus pembimbing generasi muda. Sementara itu, generasi muda memiliki keunggulan dalam akses pendidikan formal, penguasaan teknologi, serta keberanian bereksplorasi dan berkolaborasi.
“Seniman senior berperan sebagai transmisi pengetahuan dan etika berkesenian, sementara generasi muda menjadi pelaku kreatif. Keduanya harus saling melengkapi,” ujarnya.
| Baca juga: Banjir Karya, Kritik Sastra Bali Tenggelam |
Ia juga mengusulkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat keberlanjutan PKB, di antaranya program Maestro dan Murid Kreatif, digitalisasi dokumentasi seni, serta kolaborasi lintas generasi.
“Inovasi tidak boleh memutus tradisi, tetapi mentransformasikan nilai-nilai budaya ke dalam bentuk yang relevan dengan zaman,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. I Kadek Suartaya menyoroti pentingnya PKB sebagai ruang yang tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga mendokumentasikan gagasan para maestro di balik lahirnya karya tersebut. Menurutnya, pemikiran para seniman merupakan bagian penting dari warisan budaya yang sering kali belum terdokumentasi secara memadai.
“Yang sering terlupakan adalah proses berpikir di balik lahirnya karya. Jika tidak didokumentasikan, kita akan kehilangan pengetahuan yang sangat berharga,” katanya.
Ia mencontohkan lahirnya Adi Merdangga pada 1984 yang berangkat dari gagasan Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra, yang kemudian diwujudkan oleh para seniman dan akademisi seni menjadi karya inovatif berkarakter tradisional-modern. Suartaya menegaskan bahwa seniman dan maestro tidak hanya hadir di panggung PKB, tetapi juga hidup dalam aktivitas budaya sehari-hari di masyarakat, termasuk dalam ritual dan kegiatan ngayah.
Karena itu, ia mendorong PKB ke depan tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya seni, tetapi juga ruang dokumentasi dan pewarisan gagasan para seniman Bali. “Kalau PKB ingin tetap relevan, maka yang harus dirawat bukan hanya karya, tetapi juga pemikiran dan pengetahuan para maestro,” ujarnya.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan PKB bertumpu pada keseimbangan antara pelestarian dan inovasi, serta pentingnya sinergi antara seniman senior dan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan budaya Bali. Ketua Panitia Diskusi Budaya yang juga Pembina Kawiya Bali, I Made Subrata, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kontribusi Kawiya Bali bersama PWI Bali dalam mendukung pengembangan kebudayaan Bali sesuai misi PKB, yakni menggali, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya.
Ia menjelaskan, diskusi ini juga menjadi ruang refleksi menjelang 50 tahun perjalanan PKB, sekaligus upaya meningkatkan literasi budaya di kalangan masyarakat.
“Kali ini dalam rangka PKB ke-48 Tahun 2026, Kawiya Bali bekerja sama dengan PWI Bali menggelar diskusi budaya sebanyak lima kali dengan tema yang berbeda,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....