Jadi Hindu Kekinian, Haruskah Meninggalkan Nilai Luhur?

  • 15 Sep 2026 09:41 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Hindu modern tidak berarti meninggalkan nilai-nilai luhur ajaran agama, tetapi mampu menyelaraskan Dharma dengan kehidupan masa kini di era teknologi dan media sosial.
  • Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung Ida Bagus Caniartha Satwika menekankan bahwa tantangan utama umat Hindu saat ini adalah tetap relevan dan adaptif tanpa kehilangan jati diri keagamaan.
  • Kekinian dalam konteks Hindu berarti memahami agama tidak hanya dari sisi ritual, tetapi juga menggunakan teknologi untuk hal-hal positif sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip Dharma.

RRI.CO.ID, Denpasar - Menjadi Hindu yang kekinian tidak berarti harus meninggalkan nilai-nilai luhur ajaran agama di tengah perkembangan teknologi, media sosial, dan gaya hidup modern. Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ida Bagus Caniartha Satwika, dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Senin 14 September 2026, mengatakan tantangan umat saat ini adalah tetap relevan dan adaptif tanpa kehilangan jati diri sebagai umat Hindu yang berpegang pada Dharma.

“Menjadi Hindu yang kekinian bukan berarti sekadar mengikuti tren gaya hidup modern atau aktif di media sosial,” ujar Caniartha. Menurutnya, kekinian berarti mampu menyelaraskan ajaran Hindu dengan kehidupan masa kini, memahami agama tidak hanya dari sisi ritual, serta menggunakan teknologi untuk hal-hal yang positif.

Ia menjelaskan, konsep Desa Kala Patra menjadi salah satu landasan dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. “Hindu sejatinya fleksibel, tidak kaku, dan selalu relevan sepanjang zaman,” katanya.

Meski kehidupan terus berubah, terdapat nilai dasar yang tidak boleh ditinggalkan, salah satunya Dharma sebagai landasan kehidupan umat Hindu. Dharma mengajarkan manusia untuk menjalankan kewajiban moral, bersikap jujur, adil, dan bertanggung jawab sesuai perannya dalam kehidupan.

“Menjalankan Dharma berarti berani jujur, adil, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan,” ucapnya. Nilai tersebut dinilai semakin penting di era modern ketika seseorang kerap dihadapkan pada pilihan yang mudah dilakukan, tetapi tidak selalu benar.

Selain Dharma, Tri Kaya Parisudha juga menjadi pedoman penting dalam kehidupan, khususnya di tengah perkembangan media sosial. Ajaran tersebut mengajarkan keselarasan antara pikiran atau Manacika, perkataan atau Wacika, dan perbuatan atau Kayika.

“Di era digital, kebebasan berpikir, berbicara, dan bertindak harus diimbangi dengan tanggung jawab moral,” jelasnya. Penerapannya antara lain dengan berpikir positif, tidak mudah terprovokasi informasi yang belum jelas, menghindari hoaks, ujaran kebencian, komentar kasar, penipuan, hingga perundungan di dunia digital.

Nilai berikutnya adalah Tat Twam Asi yang mengajarkan kesadaran bahwa setiap makhluk memiliki keterhubungan satu sama lain. Menurutnya, ajaran ini penting untuk menumbuhkan empati, saling menghormati, toleransi, serta menghindari diskriminasi dan sikap egois.

“Di balik setiap akun media sosial, ada manusia yang memiliki perasaan,” ujarnya. Karena itu, interaksi di ruang digital juga harus dilakukan dengan etika dan empati, termasuk ketika menghadapi perbedaan pendapat maupun keyakinan.

Sementara itu, Karma Phala mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan menghasilkan akibat, baik maupun buruk. Pemahaman tersebut dapat menjadi pengendali diri agar seseorang tetap berhati-hati dalam berpikir, berkata, dan bertindak meskipun tidak ada orang lain yang melihat.

Dalam kehidupan digital, penyebaran kebaikan dapat membangun kepercayaan dan hubungan yang positif, sedangkan kebencian maupun informasi palsu dapat membawa dampak buruk. “Setiap tindakan memiliki konsekuensinya,” kata Caniartha, sehingga manusia perlu lebih bijaksana dalam menentukan sikap.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut mengakui, generasi muda menghadapi tantangan besar di era digital, mulai dari derasnya arus informasi, hoaks, ujaran kebencian, hingga pengaruh gaya hidup instan dan hedonis. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pola pikir serta menjauhkan generasi muda dari kesederhanaan, pengendalian diri, dan rasa syukur apabila tidak disikapi secara bijak.

Tantangan lainnya adalah menurunnya minat terhadap kegiatan keagamaan akibat kesibukan dan dominasi hiburan digital. Aktivitas sembahyang, membaca kitab suci, maupun mengikuti Dharma Wacana dinilai tetap penting sebagai sumber kekuatan spiritual dan pembentukan karakter.

Caniartha juga menyoroti kecenderungan sebagian generasi muda yang lebih mengutamakan penampilan dibandingkan makna spiritual suatu kegiatan. “Yadnya yang seharusnya dilandasi ketulusan dan keikhlasan terkadang berubah menjadi ajang pencitraan,” ungkapnya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuka peluang besar untuk memperluas pembelajaran dan penyebaran nilai-nilai Hindu. Generasi muda kini dapat memanfaatkan e-book, video ceramah, podcast, serta berbagai platform pembelajaran daring untuk memperdalam pengetahuan agama secara lebih fleksibel.

Media sosial juga dapat digunakan sebagai sarana menyebarkan nilai Dharma melalui konten edukatif dan inspiratif. “Generasi muda bisa menjadi content creator yang membawa nilai positif,” katanya, misalnya dengan membuat konten tentang hari suci, kisah inspiratif, tokoh Hindu, pengalaman spiritual, serta nilai kejujuran, kerja keras, dan toleransi.

Teknologi juga memungkinkan umat Hindu dari berbagai daerah dan negara saling terhubung untuk berbagi pengalaman serta memperkuat persaudaraan. Namun, Ida Bagus Caniartha Satwika mengingatkan bahwa teknologi pada dasarnya hanyalah alat, sementara dampaknya sangat bergantung pada cara manusia menggunakannya.

Menjadi Hindu kekinian dapat diwujudkan dengan meningkatkan pemahaman terhadap ajaran, bukan sekadar mengikuti tradisi tanpa mengetahui maknanya. “Menjadi Hindu kekinian berarti memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk belajar, tidak hanya melakukan, tetapi juga memahami,” tuturnya.

Generasi muda juga didorong aktif berkarya di media sosial dengan menghadirkan konten positif yang mengandung nilai Dharma. Selain itu, modernitas tetap perlu diimbangi dengan kesadaran spiritual melalui sembahyang, ketulusan dalam beryadnya, serta tidak menjadikan kegiatan keagamaan sebagai ajang pamer.

Kehidupan beragama juga perlu diwujudkan melalui aktivitas sosial seperti ngayah, bakti sosial, membantu sesama tanpa memandang latar belakang, serta aktif dalam organisasi kepemudaan dan komunitas keagamaan. “Menjadi Hindu tidak hanya cukup secara pribadi, tetapi juga harus tercermin dalam kehidupan sosial,” katanya.

Menurutnya, generasi muda juga perlu menjadi teladan melalui kebiasaan sederhana seperti menjaga sopan santun, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Keteladanan tersebut menjadi bentuk nyata penerapan nilai-nilai Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

“Menjadi Hindu yang kekinian bukan tentang seberapa modern penampilan kita, tetapi seberapa kuat kita memegang nilai Dharma di tengah perubahan zaman,” tegasnya. Ia mengajak generasi muda menjadikan ajaran Hindu sebagai kompas kehidupan, bukan sekadar simbol.

Menjadi Hindu yang sejati, lanjutnya, merupakan upaya menjaga keseimbangan antara modernitas dan spiritualitas serta kehidupan dunia luar dan kedamaian batin. Dengan tetap berpegang pada Dharma, generasi muda Hindu diharapkan mampu menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, adaptif, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur ajaran agama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....