Jangan Lupa Diri, Memaknai Eling dalam Kehidupan
- 15 Sep 2026 09:05 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Penyuluh Agama Hindu I Made Gede Chandra Narayama mengajak umat Hindu menerapkan ajaran eling atau kesadaran diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
- Eling dipahami bukan sekadar mengingat Tuhan, melainkan juga menyadari jati diri, hukum karma pala, dan mampu mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan agar tetap berada di jalan Dharma.
- Kehidupan modern yang serba cepat, tekanan ekonomi, dan derasnya informasi digital membuat manusia rentan kehilangan kendali diri, sehingga eling menjadi sangat relevan untuk diimplementasikan.
RRI.CO.ID, Denpasar - Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, I Made Gede Chandra Narayama, dalam acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Minggu, 13 September 2026, mengajak umat Hindu menerapkan ajaran eling atau kesadaran diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurutnya, eling tidak sekadar mengingat Tuhan, tetapi juga menyadari jati diri, hukum karma pala, serta mampu mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan agar tetap berada di jalan Dharma.
Chandra mengatakan, kehidupan modern yang serba cepat, tekanan ekonomi, derasnya informasi digital, serta perubahan sosial membuat manusia rentan kehilangan kendali atas dirinya. “Eling menjadi sangat relevan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, eling secara filosofis merupakan kesadaran rohani yang menuntun manusia agar selalu waspada terhadap pikiran, perkataan dan perbuatannya. Konsep tersebut sejalan dengan ajaran Tri Kaya Parisudha yang menekankan pentingnya menjaga kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan.
Menurut Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut, pengendalian diri menjadi penting karena manusia memiliki potensi menjadikan dirinya sebagai sahabat sekaligus musuh bagi dirinya sendiri. “Diri sendiri adalah sahabat bagi diri sendiri dan diri sendiri juga bisa menjadi musuh bagi dirinya,” jelasnya, mengutip ajaran Bhagavad Gita.
Eling juga berkaitan erat dengan kesadaran terhadap hukum karma pala, yakni setiap perbuatan memiliki konsekuensi. “Orang yang eling akan menjadikan Dharma sebagai landasan hidupnya, sehingga mampu menghindari perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain,” katanya.
Chandra menyebut, penerapan eling dapat dimulai dengan menyadari jati diri sebagai Atman dan tidak larut dalam ego, ambisi maupun keterikatan berlebihan terhadap kehidupan duniawi. Ia mengibaratkan Atman sebagai pengendali kereta, sementara tubuh merupakan kereta yang harus diarahkan agar pikiran, perkataan dan tindakan tetap berada pada jalan yang benar.
Untuk menumbuhkan eling, umat Hindu juga dapat membiasakan diri mengingat Tuhan dalam setiap aktivitas, bukan hanya ketika sembahyang. “Berdoa sebelum dan sesudah melakukan aktivitas, bekerja sebagai bentuk yadnya, serta tidak terlalu terikat pada hasil pekerjaan merupakan bagian dari praktik eling,” ungkapnya.
Ia menambahkan, rasa syukur dalam berbagai keadaan juga menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran diri. “Kita tidak mesti selalu merasa benar dan menyalahkan orang lain, karena setiap kejadian memiliki sebab dan akibat,” tuturnya.
Eling juga mendorong seseorang menjalankan swadharma atau kewajiban sesuai peran masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Chandra mengutip Bhagavad Gita bahwa lebih baik menjalankan kewajiban sendiri meskipun tidak sempurna daripada menjalankan kewajiban orang lain dengan sempurna.
Selain itu, latihan spiritual seperti tapa brata, yoga, japa mantra dan meditasi dinilai dapat membantu menenangkan pikiran sekaligus mempertajam kesadaran batin. “Dengan pikiran yang tenang, eling akan hadir secara alami dalam setiap laku hidup,” katanya.
Menurut Chandra, pengalaman hidup juga perlu dipandang sebagai guru yang memberikan pembelajaran melalui karma dan berbagai peristiwa. Orang yang eling tidak terus-menerus menyalahkan keadaan, melainkan melakukan introspeksi dan berusaha memperbaiki diri.
Dalam konteks kehidupan kekinian, eling dinilai semakin penting untuk menghadapi penggunaan media sosial, pergaulan, konflik sosial hingga degradasi moral. “Eling mengajarkan manusia untuk tidak reaktif, tidak mudah terprovokasi, serta mampu menahan diri dari perilaku yang melanggar nilai-nilai Dharma,” tegasnya.
Chandra menegaskan, eling merupakan salah satu pijakan penting dalam ajaran Hindu untuk membangun kehidupan yang penuh kesadaran, pengendalian diri dan tanggung jawab moral. Penerapan eling yang berlandaskan Tri Kaya Parisudha dan karma pala diharapkan mampu membantu umat Hindu menjalani kehidupan secara bijaksana, damai dan bermakna, sekaligus menjaga keharmonisan dengan sesama, alam dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....