Logika Tak Lagi Memberi Jawaban, Masyarakat Bali Kembali pada Tradisi Mula Keto
- 03 Jun 2026 11:58 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Kearifan lokal Bali yang dikenal dengan tradisi Mula Keto dinilai masih memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat modern selama dipahami secara bijaksana dan sesuai konteks zaman. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Alit Aryawati Apriltini, dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurut Aryawati, masyarakat Bali memiliki banyak warisan nilai luhur yang tercermin dalam berbagai ungkapan dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai tersebut tidak hanya mengandung kearifan sosial, tetapi juga menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.
“Banyak nilai kearifan lokal, nilai kearifan sosial, dan nilai kearifan tradisional yang perlu dijaga serta dilestarikan keberadaannya,” ujar Penyuluh Agama Kota Denpasar tersebut. Ia menilai tradisi-tradisi lokal merupakan bagian penting dari identitas budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah nilai tradisional seperti adeng-adeng awak bisa dapat mendorong seseorang untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan diri. Namun, pemaknaan yang kurang tepat terhadap nilai tersebut berpotensi menimbulkan rasa minder dan rendah diri yang justru menghambat perkembangan pribadi.
“Tradisi Mula Keto mengandung nilai kearifan sosial dan kearifan tradisional yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan yang lebih baik,” katanya. Karena itu, tradisi tersebut perlu ditempatkan secara proporsional agar tetap memberi manfaat bagi masyarakat.
Aryawati menambahkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat kerap menghadapi persoalan yang tidak selalu dapat dijelaskan secara logis maupun ilmiah. Dalam situasi seperti itu, tradisi dan pendekatan spiritual sering menjadi alternatif untuk memperoleh ketenangan batin serta sudut pandang baru dalam mencari solusi.
“Ketika yang logis tidak bisa membantu, masyarakat sering mencoba mencari penjelasan atau solusi melalui jalan spiritual,” ungkapnya. Fenomena tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa tradisi Mula Keto masih memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat Bali hingga saat ini.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai spiritual seharusnya berjalan beriringan dalam membangun kualitas hidup manusia. Sikap kritis tetap diperlukan, terutama dalam dunia pendidikan, namun tidak berarti mengabaikan seluruh warisan kearifan lokal yang telah ada sejak lama.
“Manusia harus mampu bersikap bijaksana dalam memaknai berbagai nilai kearifan lokal, sosial, dan tradisional yang diwariskan oleh para leluhur,” tuturnya. Ia berharap masyarakat tetap melestarikan tradisi yang mengandung nilai positif dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....