Tri Hita Karana, Fondasi Harmoni Umat Hindu di Bali

  • 05 Sep 2026 07:03 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Konsep Tri Hita Karana menjadi pilar utama dalam menjaga keharmonisan kehidupan umat Hindu, sebagaimana dipaparkan oleh Penyuluh Ahli Madya Agama Hindu Kementerian Agama ( Kemenag) Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana,S.Ag.,M.Si.,dalam acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar. Suana menjelaskan Falsafah Tri Hita Karana ini mencakup tiga unsur keseimbangan, yang meliputi hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), antar sesama manusia (Pawongan), serta hubungan yang selaras dengan alam lingkungan (Palemahan).

Implementasi nilai-nilai tersebut, diharapkan dapat menjadi pedoman perilaku dan moral bagi umat, dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Suana mengungkapkan pemahaman mendalam mengenai filosofi ini, menjadi kunci dalam mewujudkan kedamaian yang berkelanjutan bagi seluruh umat.

Terkait pentingnya penerapan nilai tersebut, Suana menegaskan bahwa harmoni merupakan esensi dari ajaran agama Hindu. "Harmoni dalam agama Hindu berakar pada konsep Tri Hita Karana, yang didukung oleh prinsip Tatwa, Susila, dan tujuan hidup Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma”, ujar Suana.

Suana menambahkan selain prinsip tersebut, umat Hindu juga diajarkan untuk memiliki karakter luhur melalui ajaran Catur Paramita. Sikap karuna, maitri, mudita, dan upeksa, menjadi dasar bagi individu, untuk membangun rasa kasih sayang dan tenggang rasa terhadap sesama.

Suana menjelaskan dalam sastra-sastra Hindu kuno, seperti Regweda dan Bhagawadgita, telah memberikan legitimasi teologis bahwa kedamaian universa,l hanya bisa dicapai melalui keselarasan hidup. Konsep-konsep ini ditegaskan kembali sebagai panduan praktis, untuk mencegah konflik dan menjaga kerukunan sosial di tengah perbedaan yang ada.

Suana menekankan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk menciptakan kedamaian. "Jadi keharmonisan di Bali terlaksana dengan baik, melalui perilaku spiritual dalam konsep sekala niskala, tertuang dalam konsep eko-teologi Hindu yang beragam namun bukan seragam," ucap Suana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....