Mengurai Makna Spiritual Anggara Kasih Penyucian Diri
- 16 Agt 2026 21:51 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar- Masyarakat Hindu di Bali kembali diajak untuk mendalami hakikat penyucian diri dan alam semesta, melalui peringatan hari suci Anggara Kasih yang jatuh setiap 35 hari sekali. Hal tersebut disampaikan langsung Penyuluh Ahli Madya Agama Hindu Kementerian Agama ( Kemenag) Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana,S.Ag.,M.Si., ketika berbincang mengemuka dalam siaran Obrolan Komunitas yang disiarkan di Studio Pro 4 RRI Denpasar,Selasa, 11 Agustus 2026, dengan narasumber
Suana mengungkapkan pertemuan antara hari Selasa (Anggara) dan pasaran Kliwon ini, diyakini sebagai momentum sacral, untuk melebur segala sifat egois serta kotoran batin dalam diri manusia. Selain pembersihan jiwa pribadi atau bhuana alit, ritual ini juga difokuskan untuk menjaga keharmonisan alam semesta atau bhuana agung dari berbagai energi negatif.
| Baca juga: Mengapa Bulan Suro Dianggap Sakral? |
Suana menegaskan pentingnya mawas diri dalam menyikapi hari suci tersebut. "Hari Anggara Kasih merupakan momen penyucian diri dari sifat ego serta pikiran kotor, untuk menebus kecemaran batin dan menumbuhkan cinta kasih murni kepada sesama makhluk," ujar Suana.
Suana menambahkan secara filosofis, keberadaan Anggara Kasih dalam kalender Bali, memiliki siklus berotasi setiap 210 hari, dengan enam nama wuku yang berbeda. Setiap wuku menghadirkan manifestasi Dewa Siwa yang spesifik untuk dipuja, mulai dari Anggara Kasih Kulantir, Tambir, Prangbakat, Medangsia, Julungwangi, hingga Dukut.
Umat Hindu biasanya memfokuskan persembahyangan di area rumah tangga, seperti Palinggih Kemulan untuk memuja leluhur, serta Palinggih Indra Blaka guna menjaga ketenteraman pekarangan. Penghaturan sesajen atau banten wangi-wangian menjadi sarana utama, untuk menenangkan kekuatan alam bawah agar berubah menjadi energi positif.
Suana menekankan bahwa inti utama dari pemujaan ini, berpusat pada penyerahan diri secara tulus kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa. "Umat Hindu secara umum memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa, yang sedang melakukan yoga samadhi untuk melebur kekotoran dunia,"ujar Suana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....